Dinar dan Dirham



Dinar dan Dirham
Dinar adalah mata uang berupa koin yang terbuat dari emas dengan kadar 22 karat (91,7 %) dan berat 4,25 gram. Dirham adalah mata uang yang terbuat dari Perak Murni dengan berat 2,975 gram. Dinar dan Dirham adalah mata uang yang dipakai pada zaman Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam . Pada era kekhalifahan Umar bin Khatab, ditetapkan bahwa Dinar dan Dirham memiliki standart seperti tersebut diatas. Di Indonesia, Dinar dan Dirham diproduksi oleh Logam Mulia, unit bisnis dari PT Aneka Tambang, Tbk, dan disertai Sertifikat setiap kepingnya. Keaslian dan keakuratan berat dan kadarnya telah diuji dan disertifikasi oleh KAN (Komite Akreditasi Nasional) dan oleh LBMA (London Bullion Market Association). Dinar dan Dirham saat ini belum diakui secara resmi oleh Pemerintah sebagai alat tukar, sehingga pengenalan kembali Dinar dan Dirham di kalangan umat, digunakan pendekatan sebagai bentuk investasi/tabungan dan pelindung aset/harta umat. Dinar sebagai mata uang yang berasal dari Dunia Islam, sepanjang sejarah telah terbukti memiliki daya beli yang stabil lebih dari 1400 tahun. Dalam kurun 40 tahun terakhir, Rupiah mengalami penurunan daya beli akibat INFLASI rata-rata 8 % per tahun, sedangkan US Dollar mengalami penurunan rata-rata 5 % per tahun. Sebaliknya dalam kurun waktu yang sama, nilai Dinar mengalami kenaikan nilai rata-rata 28,73 % per tahun terhadap Rupiah dan kenaikan rata-rata 10,12 % per tahun terhadap US Dollar. Bandingkan dengan bagi hasil Deposito di Bank yang berkisar 6 % - 8 %. Dinar dapat digunakan sebagai investasi/tabungan jangka menengah/panjang, sangat cocok untuk rencana jangka panjang seperti menunaikan ibadah haji, biaya pernikahan anak, biaya sekolah anak, biaya membeli/perbaikan rumah, warisan (Islam melarang kita meninggalkan keturunan yang lemah) dan lain sebagainya. Beban biaya dan kebutuhan hidup yang semakin berat memang tidak terasa ... dengan asumsi inflasi 7,5 % per tahun saja, biaya hidup kita dalam Rupiah akan meningkat lebih dari 100 % dalam 10 tahun mendatang. Kekuatan khasanah keadilan mata uang Dinar dapat dimanfaatkan untuk melindungi aset/harta kita dari kehancuran/penurunan nilai uang seperti yang pernah terjadi di Indonesia, yaitu Sanering Rupiah tahun 1965 dan Krisis Moneter tahun 1997-1998.


Grafik Harga Dinar dalam IDR dan Dollar
Gerai narDinar Bangkalan
Dinar Emas memiliki 3 fungsi : Sebagai alat tukar, Timbangan yang adil dan Perlindungan nilai. Dinar emas untuk membangun ketahanan ekonomi dan memakmurkan umat tetapi tidak untuk ditimbun!.
Jual Beli Dinar Emas dan Dirham Perak Bersertifikat produksi PT Aneka Tambang (Antam) persero dan PT Peruri (Persero)
Jl. Nangka, Kamal Madura 69162
Kontak:
Amy : 081554481448
Email : gerainardinarbkl@gmail.com

Dapatkan discount belanja 10 % untuk pembelian produk Thibbunnabawy dan herba di Toko herba online BaherbA (www.baherba.blogspot.com), bagi setiap pembelian dinar di Gerai narDinar.

Trend Harga Dinar Dalam 3 Bulan

Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Maret 2011

Sukses Anda, Sukses Teman Hidup Anda...

Belasan tahun lalu ketika saya masih aktif sebagai direksi perusahaan asuransi, ada cerita yang popular di kalangan para salesman asuransi – bahkan cerita ini termuat di majalah-majalah atau journal mereka. Konon suatu saat presiden Amerika waktu itu menemani istrinya reuni SMA, dalam reuni tersebut si istri bertemu dengan mantan pacarnya dan memperkenalkan kepada suaminya. Dalam perkenalan inilah sang presiden tahu bahwa mantan pacar istrinya tersebut kemudian berkarir sebagai seorang salesman asuransi.  Sang presiden kemudian berbisik ke telinga istrinya : “Seandainya kamu jadi kawin sama dia, kamu adalah istri seorang salesman asuransi” . Istrinya yang tidak kalah cerdas kemudian berganti berbisik ke telinga suaminya : “Seandainya aku jadi kawin sama dia, dia yang jadi presiden Amerika – dan kamu jadi salesman asuransi !”.

Cerita ini tentu saja tidak sahih – tetapi ada pesan yang baik untuk menjadi pelajaran. Bahwa ketika kita sukses, bisa jadi kesuksesan itu bukan hanya karena diri kita saja – melainkan juga merupakan kesuksesan teman-teman dekat kita khususnya pasangan hidup kita.

Dalam Islam kita memiliki referensi yang lebih valid antara lain melalui hadits sebagai berikut : dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda: "Seseorang tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang dia jadikan sebagai teman dekat." (Musnad Ahmad, Hadits no 8065).

Ada dua pelajaran sekaligus dari hadits tersebut diatas yang bisa kita ambil yaitu sikap dalam menggapai kesuksesan dan sikap dalam mensyukurinya. Begitu kuatnya peran teman dekat ini (yang paling dekat tentu pasangan hidup kita) sampai-sampai di hadits tersebut digambarkan bahwa agama kita adalah agama teman dekat kita. Dalam bidang atau bahasa lain ini juga berarti kesuksesan kita adalah kesuksesan teman dekat kita.

Oleh karenanyalah menjadi amat sangat penting memilih teman yang bisa mendampingi Anda untuk menggapai kesuksesan. Sekarang perhatikanlah teman-teman dekat Anda, perhatikan potensi-potensi mereka, apakah kedepannya akan membawa kebaikan/kesuksesan atau sebaliknya.

Bila sampai sekarang dari teman-teman dekat Anda, Anda belum bisa melihat potensi sukses Anda – maka kini saatnya Anda mencari teman-teman yang sekiranya bisa membantu merealisasikan suksesnya cita-cita Anda.  Di jaman teknologi kini seperti  teknologi facebook misalnya, sungguh mudah mencari teman-teman yang berpotensi ini. Rata-rata account facebook menampilkan cukup detil profil pemilik account, dan  rata-rata facebooker jarang menolak permintaan orang lain untuk berteman dengannya. Asal digunakan dengan baik dan dengan tujuan yang baik pula, teknologi semacam ini bisa sangat bermanfaat.

Kemudian bila Anda telah mencapai kesuksesan, jangan lupakan teman-teman dekat Anda. Bisa jadi kesuksesan yang Anda capai adalah kesuksesan teman-teman dekat Anda juga – khususnya pasangan Anda seperti dalam ilustrasi di awal tulisan ini. Dari sebuah survey yang pernah saya baca sekian tahun lalu, orang-orang sukses dibidang apapun ternyata rata-rata juga orang-orang yang setia sama pasangan hidupnya.

Lihat contohnya adalah para pemimpin negeri ini, sebagian terbesarnya adalah orang-orang yang sangat setia dengan pasangannya. Bahkan belum lama ini publik Indonesia begitu bersimpati dengan mantan presiden kita Bapak BJ. Habibie, yang kisah kesetiaan  terhadap istrinya kemudian ditulis menjadi sebuah buku.

Yang perlu diperhatikan ketika Anda mencari teman untuk sukses adalah kriteria tentang sukses itu sendiri – dalam bidang apa Anda ingin sukses ?. Maka teman-teman Anda adalah juga yang berpotensi sukses dibidang tersebut. Guru ngaji saya misalnya, dia adalah seorang hafidz (hafal Al-Qur’an 30 juz) – untuk bisa mempertahankan ke-hafidzan-nya maka ketika mencari teman seumur hidup (istri) kriteria yang ditargetkannya ya dia harus mendapatkan seorang hafidzah.

Kita tahu bahwa untuk mempertahankan hafalan Al-qur’an harus terus diulang-ulang setiap waktu – maka berpasangan dengan seorang hafidzah meringankan beban hafalan guru ngaji saya tersebut. Ketika dia sedang mengulang-ulang hafalan – dari waktu ke waktu sebagai manusia biasa tentu terkadang ada yang lupa pula, tetapi karena ada istri disampingnya yang juga hafal Al-Qur’an 30 juz – maka sang istri bisa dengan mudah dan cepat membetulkannya, demikian pula sebaliknya ketika istri yang lupa.

Saling mengisi dan saling mengingatkan bila ada yang lupa tersebut bukan hanya untuk para hafidz dan hafidzah, kita semua perlu melakukannya dengan teman-teman dekat kita khususnya pasangan hidup kita. Maka pilihlah dia dengan baik, dan ketika kita sukses, jangan dilupakan atau bahkan dikhianati dia – sukses Anda adalah juga sukses teman hidup Anda !. Wa Allahu A’lam. (Muhaimin Iqbal, Gerai Dinar, 11 Maret 2011)

Sabtu, 26 Februari 2011

Merubah Budaya Buruk Menjadi Budaya Produktif, Dari Mana Memulainya …?

Di Jawa Barat ada satu kabupaten yang memiliki tingkat perceraian sangat tinggi dibandingkan dengan rata-rata kabupaten/kota lain di Indonesia. Saya tidak menemukan penjelasannya mengapa ini terjadi di kabupaten tersebut, tetapi dalam skala kecil di suatu perusahaan pernah saya menjumpai hal yang serupa. Belasan tahun lalu saya bekerja di suatu perusahaan yang luar biasa professional dibidangnya dan memiliki sekumpulan orang-orang yang berdedikasi sangat baik pada pekerjaannya. Namun di belakang kesuksesan perusahaan tersebut ternyata begitu banyak keluarga-keluarga yang hancur karena kasus perceraian. Yang menarik untuk diketahui adalah prosesnya, bagaimana hal tersebut terjadi !.

Penyebab begitu banyaknya perceraian di perusahaan tersebut ternyata tidak lain adalah karena faktor pertemanan. Karyawati-karyawati baik-baik yang sedang mengalami masalah biasa saja dengan suaminya – bisa berujung perceraian gara-gara curhat sama temannya yang telah terlebih dahulu bercerai. Begitu seterusnya sehingga perceraian itu mewabah menjadi hal yang seolah biasa di kantor tersebut.

Bila hal-hal buruk seperti perceraian tersebut begitu mudahnya menular, demikian pula dengan hal-hal yang baik. Saya ada teman yang amat sangat soleh, lahir dari keluarga yang luar biasa kesolehan-nya kemudian beristrikan wanita solehah dari keluarga yang juga sangat soleh. Ternyata temen ini tidak hanya berhasil membimbing keluarganya sendiri untuk menjadi kumpulan orang-orang soleh dan solehah didalamnya, tetapi bahkan mereka bisa mempengaruhi orang-orang sekelilingnya untuk mengikuti dan meniru apa yang mereka lakukan.

Dua fenomena tersebut diatas bisa menjadi contoh kontemporer atas anjuran Rasulullah Shallallahu ‘ Alaihi Wa Sallam dalam dua hadits berikut. Dari Abu Musa al-Asy’ari, NabiShallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya, perumpamaan teman baik dengan teman buruk, seperti penjual minyak wangi dan pandai besi; adapun penjual minyak, maka kamu kemungkinan dia memberimu hadiah atau engkau membeli darinya atau mendapatkan aromanya; dan adapun pandai besi, maka boleh jadi ia akan membakar pakaianmu atau engkau menemukan bau anyir.” (HR. Bukhari No.2101 dan Muslim No.6653).

Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallambersabda , “Seseorang tergantung agama temannya, maka hendaklah seorang di antara kalian melihat teman bergaulnya”.

Lantas apa kaitannya antara kasus-kasus perceraian dan contoh keluarga soleh tersebut diatas dengan upaya kita untuk menebar kebaikan ?. Kaitannya ada pada kesamaan proses menularnya hal-hal baik dan hal-hal buruk. Bila Anda sangat ingin terjun untuk menjadi entrepreneur tetapi 3 F (Friends, Families and Fools) disekitar Anda tidak ada yang memberikan dorongan misalnya, maka besar kemungkinannya Anda tidak jadi berwiraswasta. Sebaliknya juga bisa terjadi, niat Anda mungkin hanya biasa-biasa saja – tetapi dorongan dari 3 F di sekitar Anda yang luar biasa – maka bisa jadi Andapun akan sukses menekuni ke-wirausahaan Anda.

Jadi selain produk dari drive yang ada didalam diri Anda, entrepreneurship sebagai salah satu contoh kebaikan juga merupakan produk dari lingkungan dimana Anda berada. Disinilah sangat relevannya dua hadits tentang memilih teman tersebut diatas. Anjuran untuk memilih teman-teman yang baik tersebut bahkan menjadi amat sangat penting di era teknologi ini, dimana dengan mudah Anda bisa memiliki ribuan teman melalui facebook atau twitter misalnya.

Karena banyak  hal-hal buruk yang mudah sekali menyebar melalui web, facebook, twitter dlsb., maka melalui media yang sama kita harus bisa mengimbanginya atau bahkan mengunggulinya dengan hal-hal yang baik. Di antara hal-hal baik yang ingin terus kami tularkan agar menjadi wabah dari situs ini adalah semangat untuk ber-wirausaha secara umum atau yang lebih sederhana akhir-akhir ini adalah semangat untuk berdagang.

Saya bahkan membayangkan suatu saat nanti – entah kapan, entah di generasi kita atau sesudah kita, hal-hal buruk yang terjadi di negeri ini seperti merajalelanya korupsi, mafia hukum, perampokan, pencurian dan kejahatan lainnya bisa dilawan dengan menyebar luasnya budaya berdagang yang ada di masyarakat.

Ada satu keberhasilan kecil (small win) yang membuat saya yakin keberhasilan yang besar (big win) di negeri ini bisa juga terjadi. Di lingkungan kami di Jonggol Farm setahun terakhir ini tidak berhenti kami membangun kandang, pabrik susu, pabrik makanan ternak, masjid dlsb., sehingga banyak sekali material yang kami butuhkan dari masyarakat sekitar. Di antara supplier material tersebut, salah satunya adalah mantan preman –jagoannya daerah Jonggol.

Pada suatu hari si mantan preman ini di datangani oleh teman-teman lamanya untuk diajak ber-operasi di daerah lain, si mantan preman ini menolak karena saat itu dia sudah ada kerjaan berdagang men-supply kebutuhan beberapa material di project kami. Beruntunglah si mantan preman ini, karena seluruh teman-temannya yang mengajak operasi tersebut ternyata tertangkap semuanya oleh aparat. Si mantan preman kini semakin hari semakin baik  karena merasa ‘terselamatkan’ dengan kehidupan barunya.

Kemudian dari berita-berita korupsi yang dilakukan oleh penegak hukum negeri ini, rata-rata alasannya klasik yaitu penghasilan mereka tidak cukup – lantas mudah sekali mereka terpengaruh untuk mencari pendapatan tambahannya dengan korupsi – karena inilah yang sudah mewabah di lingkungannya. Bahwasanya penghasilan mereka memang tidak cukup, bisa jadi ini benar karena 80 % penduduk negeri ini memang hidup jauh dibawah garis kemiskinan berdasarkan standar nishab zakat !. Tetapi ketidak cukupan tersebut tidak juga bisa menjadi pembenaran bahwa orang bisa korupsi atau melakukan kejahatan lainnya.

Lantas apa solusi yang paling masuk akal agar orang tidak mencukupi kekurangannya melalui kejahatan korupsi dan sejenisnya ?. Menaikkan gaji mereka selama ini juga tidak menjadi solusi yang efektif karena bebarengan dengan kenaikan gaji pegawai ini – inflasi juga mengikutinya atau bahkan mendahuluinya – sehingga tetap saja tidak cukup !. Selain perbaikan mental yang menyeluruh, lagi-lagi wabah budaya berdagang tersebut diataslah yang menurut saya bisa menjadi salah satu solusinya.

Bila istri-istri penegak hukum bisa leluasa berdagang bersama masyarakat luas di Bazaar- Bazaar Madinah atau tempat lain yang memungkinkan mereka berdagang dengan mudah tanpa entry barrier modal dlsb., maka dari barakah rizki yang halal ini insyaAllah bisa mencegah suaminya untuk tidak lagi melakukan tindak pidana korupsi dan sejenisnya.

Penyakit sosial yang terlanjur mewabah di masyarakat, harus ada upaya untuk melawannya. Dengan apa kita bisa melawannya ?, Dengan menyebarkan virus-virus kebaikan melalaui kepandaian berusaha, kepandaian berdagang dlsb. Semoga hal-hal kecil yang kita lakukan ini kelak bisa menjadi bagian dari upaya masyarakat lainnya yang melakukan hal-hal kebaikan yang serupa. Bila Allah berkehendak –siapa tahu upaya-upaya tersebut nantinya bisa mencapai tipping point – seperti titik didih air yang merubah cairan menjadi uap -  yang merubah segala bentuk keburukan menjadi kebaikan !. Amin. (Muhaimin Iqbal, Gerai Dinar, 21 Februari 2011)

Minggu, 13 Februari 2011

Dengan Dollar Mereka Membiayai Perang dan Menjajah...

Hari-hari ini kita miris melihat siaran televisi tentang kekacauan di negeri saudara kita Mesir. Kita mudah ber-emphaty terhadap apa yang terjadi di Mesir sekarang oleh sebab dua hal, pertama kita memiliki pengalaman traumatis yang sama yaitu ketika terjadi pergantian rezim di negeri ini tahun 1998. Kedua karena Mesir memiliki kemiripan dengan kita dalam arti mayoritas penduduknya Muslim. Namun yang membuat kita lebih miris lagi adalah bukan karena kekacuan fisik tersebut, tetapi kemerdekaan berpikir yang nampaknya sudah lama terampas dari rakyat negeri itu.

Bayangkan di puncak krisis kepemimpinan yang terjadi hari-hari ini, muncul statement dari para tokoh negeri itu sendiri bahwa siapapun pengganti Hosni Mubarak sekarang – dia haruslah direstui oleh Amerika dan tidak membuat marah Israel !. Inilah musibah terbesar itu, rupanya selama ini negeri saudara kita  itu tidak sepenuhnya merdeka – mereka begitu dekatnya bergaul dan sangat bisa jadi juga didikte oleh negara-negara yang memusuhi negeri-negeri  Muslim.

Maka saya tidak heran, mengapa Mesir tidak bersahabat ketika saudara-saudara seiman kita di Gaza sangat membutuhkan bantuan. Bahkan untuk sekedar memberi akses jalan ke mereka saja, Mesir enggan memberikannya. Ada apa sih dibelakang ini semua ?. Ternyata ujung-ujungnya Fulus (uang Fiat) juga !.

Sampai tahun lalu, Israel dan Mesir adalah dua negara yang paling banyak mendapatkan bantuan keuangan dari pamannya mereka Uncle Sam. Dua negara itu secara bersama-sama menerima sekitar 1/3 dari bantuan Amerika ke negara lain. Sepuluh tahun terakhir, setiap tahun Mesir menerima bantuan antara US$ 1.5 Milyar (2009) sampai US$ 2.1 Milyar (2002) , sementara Israel setiap tahun mendapatkan bantuan antara US$ 2.3 Milyar (2009)  sampai US$ 3.2 Milyar (2010). Yang lebih memprihatinkan lagi ternyata bagian terbesarnya bantuan tersebut adalah untuk militer – bukan untuk kemanusiaan.

US$ 1.3 Milyar dari US$ 1.55 Milyar bantuan AS ke Mesir tahun 2010 atau 84%-nya adalah untuk Militer dan hanya 16 %-nya yang untuk bantuan ekonomi. Untuk Israel di tahun yang sama, US$ 2.8 Milyar dari US$ 3.2 Milyar atau 88 %-nya untuk militer dan hanya menyisakan 12% untuk bantuan ekonomi. Dengan kata lain adalah bantuan Amerika ke Mesir maupun Israel, sangat condong pada membangun kemampuan dua negara tersebut untuk berperang ketimbang untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

Lantas dengan besarnya bantuan AS untuk membangun kekuatan militer Mesir dan Israel tersebut secara bebarengan ini, sesungguhnya dua negara ini dipersiapkan untuk berperang melawan siapa ?. Tentu bukan untuk persiapan perang antar keduanya, tetapi persiapan berperang melawan negeri-negeri di sekitarnya. Padahal negeri-negeri di sekitarnya adalah negeri-negeri Arab - yang notabene mayoritas penduduknya adalah Muslim !.  

Pertanyaannya berikutnya adalah bagaimana negeri dengan hutang setinggi langit seperti AS, bisa membiayai kekuatan militer negara lain , dan dari waktu-kewaktu bahkan memerangi negara-negara lain tanpa hentinya seperti yang terjadi di Afganistan, Iraq dan entah negara mana lagi yang akan dijadikannya medan perang berikutnya ?.

Kembali jawabannya ada di uang kertas US$ mereka. Dahulu presiden-presiden awal yang taat konstitusi negeri itu bila hendak terlibat perang harus mengajukan anggarannya dahulu ke Congress.  Bila tidak ada uang, maka perang tidak jadi dilaksanakan. Atau mereka akan membebankan ke rakyat biaya perang ini dengan menaikkan pajak misalnya– maka inipun perlu persetujuan Congress – lagi-lagi bila tidak disetujui, perang-pun tidak jadi dilaksanakan. Namun masalah anggaran perang ini menjadi tidak terlalu penting lagi pasca dihilangkannya kaitan antara uang US$ dengan emas Agustus 1971.

Itu dahulu, kini anggaran perang – atau membiayai peralatan perang – hanyalah sekedar angka-angka saja, mau US$ 5 milyar, US$ 50 milyar atau US$ 500 milyar – cukuplah angkanya sebagai informasi saja – tetapi tidak menjadi faktor penentu apakah perang dilaksanakan atau tidak, apakah peralatan perang dibeli/dibuat atau tidak.

Tidak lagi ada yang terlalu peduli, berapa uang yang mereka keluarkan untuk perang atau membangun kekuatan untuk berperang ini baik untuk negeri sendiri ataupun untuk negeri lain seperti Israel dan Mesir tersebut diatas. Maka tidak heran, bila Amerika bisa membiayai perang Iraq yang sampai saat ini telah menelan biaya US$ 775 Milyar, dan perang Afganistan yang telah menelan biaya US$ 375 Milyar – sehingga untuk kedua perang ini saja mereka telah mengeluarkan US$ 1.15 trilyun.

Lagi-lagi dari mana mereka dapat uang untuk membiayai perang ini ?,  dari mana mereka mengeluarkan biaya perang US$ 1.15 trilyun -  padahal sampai detik ini mereka berhutang lebih dari US$ 14 trilyun ?. Ya dari hutang tadi-lah mereka membiaya perang ini. Namun kalau mereka secara terang-terangan mengeluarkan surat hutang untuk membiaya perang Iraq dan Afganistan misalnya, siapa yang mau memberinya pinjaman ? ya nggak ada.

Maka yang mereka lakukan adalah dengan mencetak uang US$, yang kemudian melalui system financial mengalir ke seluruh dunia dalam berbagai bentuknya, termasuk untuk membiaya perang atau peralatan perang tadi.

Jadi dengan Dollar mereka yang dicetak dari awang-awang, mereka membiayai perang Iraq dan Afganistan. Dengan Dollar mereka, mereka membuat negeri seperti Mesir  ‘terjajah’ -  bahkan untuk memilih pemimpin-pun harus yang direstui Amerika – dan yang tidak membuat marah sekutu mereka Israel !.

Lantas bila kita tahu bahwa dengan Dollar-nya Amerika bisa membiaya perang  di negeri-negeri Muslim seperti Iraq dan Afganistan, dengan Dollarnya pula mereka ‘menjajah’ negeri dengan penduduk mayoritas Muslim seperti Mesir – maka sesungguhnya umat ini bisa bersama-sama menghindarkan diri dari perang yang tidak perlu , dan membebaskan diri dari bentuk-bentuk penjajahan modern – bila kita mau meninggalkan US$ secepatnya. InsyaAllah kita bisa !. (Muhaimin Iqbal, Gerai Dinar, 6 Februari 2011)

Sabtu, 05 Februari 2011

1,000,000,000 Orang Kelaparan Kronis, Apa Yang Bisa Kita Perbuat...?

Situs resmi Food and Agriculture Organization (FAO) – badan pangan PBB – hari-hari ini memuat iklan yang menarik. Iklan tersebut mengajak kita marah dan membuat petisi ke pemerintahnya masing-masing, untuk memberikan tekanan agar mereka menaruh upaya pencegahan kelaparan sebagai top priority dalam pemerintahannya. Meskipun ini mirip dengan upaya yang pernah saya tulis di situs ini hampir sebulan lalu , saya sendiri kurang sreg bila hanya dengan petisi-petisi semacam ini, mengapa ?.

Hanya dengan membuat petisi, seolah kita melempar masalah kelaparan ini adalah tanggung jawab pemerintah saja. Tentu saja sebagai pemimpin negeri, mereka memiliki tanggung jawab lebih – tetapi kita sebagi individu juga memiliki tanggung jawab  yang sesuai dengan kapasitas kita masing-masing. Oleh karenanya melalui situs ini, dalam berbagai tulisan saya mengajak para pembaca untuk mulai ikut berpikir dan bertindak untuk mencegah kelaparan ini.

Apa yang sebenarnya salah ?, mengapa sampai begitu banyak orang kelaparan di muka bumi ?, banyak sekali yang bisa dijadikan kambing hitam untuk ini. Tetapi bila melihat data inflasi bahan pangan di Indonesia yang rata-rata naik 12% per tahun selama lima tahun terakhir maka nampak problemnya antara lain ada di supply bahan pangan dan juga daya beli masyarakat. Supply bahan pangan yang semakin terbatas membuat sebagian penduduk yang berdaya beli rendah – tidak kebagian bahan pangan karena tidak mampu membelinya.

Ini rupanya juga bukan hanya gejala di Indonesia, perhatikan grafik dibawah yang saya sajikan berdasarkan data terakhir dari FAO. Dalam dasawarsa 90-an (1991-2000), Food Price Index dunia relatif stabil – artinya tidak terjadi pemburukan harga bahan pangan dunia selama dasawarsa tersebut.
 
Food IndexSource : FAO
Tetapi dalam dasawarsa pertama di milenium ketiga ini (2001-2010), terjadi lonjakan harga pangan dunia yang luar biasa. Bila di rata-rata, maka harga pangan dunia secara umum naik sekitar 7 % per tahun dan bahkan mencapai 8 % per tahun untuk kategori cereals – bahan pangan yang paling banyak dikonsumsi dunia.

Lantas bisa berkontribusi apa orang-orang kecil seperti kita-kita dalam mengatasi krisis pangan yang berskala global ini ?. Mungkin kapasitas kita secara individu memang tidak bisa mengatasi krisis pangan global ini, atau bahkan mengatasi krisis nasional-pun tidak bisa ; tetapi bila gerakan yang sama dilakukan oleh sekian banyak orang – maka insyaallah krisis tersebut bisa diatasi atau setidaknya dikurangi.

Disinilah perbedaan saya dengan FAO; bila FAO mengajak masyarakat global untuk membuat petisi terhadap pemerintahnya masing-masing; saya mengajak siapapun yang membaca tulisan ini untuk mulai berpikir dan bertindak nyata dalam mengatasi kelaparan ini.  Tindakan apa yang secara strategis bisa kita lakukan untuk ini ?; berikut adalah empat area yang setidaknya bisa kita mulai somewhere.

Pertama penggunaan capital yang ada di tangan Anda. Bila selama ini excess capital yang dimiliki masyarakat kelompok menengah dan atas perkotaan mayoritasnya ada di bank, asuransi, saham, reksadana, emas, property dlsb. mulailah berpikir untuk setidaknya menggunakan sebagian dana Anda untuk membiayai sektor-sektor pertanian dalam arti luas. Di sekitar Jabodetabek saja banyak sekali lahan tidur, temukan mereka dan tanami dengan padi, singkong, pisang, sayur, jamur dlsb.

Kedua penggunaan sumber daya baik yang bersifat alam maupun manusia. Saya sedih sekali beberapa hari lalu mendengar seorang menteri di negeri ini menyalahkan hujan sepanjang tahun sebagai sumber masalah kekurangan pangan. Rizki kita turun bersama hujan, pasti karena kelemahan kita yang tidak dapat secara strategis menyongsong dan mengolah rizki tersebut yang membuat kita kekurangan pangan.

Marilah berpikir out of the box, bahan pangan bukan hanya padi, gandum dan sejenisnya. Bahan pangan bisa saja berupa jamur sebagai contoh - yang bisa ditanam secara vertical di tanah yang sangat sempit sekalipun. Jamur tumbuh subur dikala hujan banyak, kelembaban tinggi dan suhu relatif rendah. Saya yakin banyak sekali bahan pangan lain yang tumbuh bersama hujan ini – jadi hujan tidak seharusnya dipandang sebagai ‘kambing hitam’ atas persoalan pangan di negeri ini.

Ketiga adalah akses pasar. Ketika harga cabe mencapai Rp 150,000/kg beberapa pekan lalu, ternyata bukan petaninya yang membuat harga begitu tinggi – tetapi harga ter –mark-up secara berlebihan di jalur tengkulak sampai konsumen. Meskipun dengan tingkat yang berbeda, bahan pangan lain kemungkinan besarnya juga ter-mark-up oleh system pasar yang tidak adil seperti berkuasanya para tengkulak, kartel, monopoli dan konglomerasi.

Solusi untuk yang ketiga ini adalah pasar yang Islami yang dijalankan berdasarkan syariah Islam yang sudah terbukti adil dan memakmurkan selama lebih dari seribu tahun. Bila selama ini orang sibuk mensyariahkan bank, asuransi, pasar modal dlsb; kini waktunya ada yang mensyariah-kan sektor riil seperti pasar ini.

Team kami insyaallah sudah mendekati persiapan akhir untuk melahirkan model pertama pasar syariah yang kita sebut Pasar Madinah, Medina Market atau Suk Al Madinah. Lahan untuk pasar ini alhamdulillah sudah kami bebaskan, tinggal mendirikan bangunan-bangunan sederhana untuk berteduh – agar pasar inipun cukup nyaman nantinya. Setelah model ini berjalan mulus, nanti masyarakat tinggal menggandakannya di lokasi masing-masing – agar kehadiran pasar-pasar syariah ini kelak bisa menggantikan system pasar yang ada selama ini yang mirip pasar-pasar pra Islam - yang oleh Nabi Shallallahu 'alayhiwasallam  disabdakan “...Pasar kalian tidak seperti ini...” (HR Sunan Ibnu Majjah).

Keempat adalah perlindungan nilai, hasil jerih payah kerja masyarakat tidak boleh disusutkan daya belinya karena tersimpan dalam uang kertas. Untuk ini masyarakat didorong untuk bisa berinvestasi di sektor riil dan berdagang – yang dari hitung-hitungan investasi-pun secara umum akan lebih baik dari menabung dalam uang kertas. Entry barrier untuk menjadi masyarakat pedagang akan lebih mudah diatasi – antara lain bila keberadaan pasar syariah  tersebut diatas meluas di masyarakat.

Anda dan para ahli negeri ini barangkali bisa berbuat lebih baik lagi dari empat hal yang kami programkan tersebut diatas, maka inilah peluang kita untuk fastabiqul khairat – berlomba dalam kebajikan - berlomba melawan ancaman kelaparan dunia yang konon kini telah mencapai 1,000,000,000 orang !.

Semoga Allah memudahkan jalan kita untuk bisa beramal yang diridloiNya. Amin. (Muhaimin Iqbal, Gerai Dinar, 3 Februari 2011)

Selasa, 01 Februari 2011

Prepare Your Umbrella Before It Rains...

There are no translations available.

When I learn about risk management, I learned the term Near Loss Incident. Our people call it… just almost…
The point is that big problems started with series of small problems that over time gets bigger and then it peaks ----bang ---- everything is destroyed.
In the world financial market, that is what happened in the last few months. The world financial market has only reached the …just almost…collapse. But does it occur in our minds that the global financial system can really collapse ?.
What if something that happened in Indonesia year 1965 and 1998, or like Germany year 1923 or the Great Depression that started the fall of the US stock exchange in 29 October 1929 was repeated? What can we do?.

Besides this blog, it’s good if you read Mindset, a book by John Naisbitt, from the view of the western futurolog, - for him the currency of the future is real commodity that has intrinsic value. Meaning that if the world financial system collapse, what you need to hold at that time is something that does have value, not paper with given numbers but no value.
This does not have to be gold or Dinar, it can be mining products, agriculture products, animal husbandary, property or other real wealth. From all this, the most practical and easy to get at this moment is Gold Dinar.  
Today and the days ahead, the gold price tends to decline, so is Dinar – hopefully; this is a great chance to buy an umbrella before a heavy rain that is almost unbearable like couple days ago. (Muhaimin Iqbal, M-dinar, 11Januari 2009)

Kamis, 27 Januari 2011

Teknologi Untuk Berbuat Baik : Everyone Helps, Everyone Wins...

Teknologi itu seperti sebuah pedang, di tangan orang  dhalim dia bisa menjadi alat untuk berbuat dosa besar yaitu membunuh orang secara tidak hak – namun di tangan para mujahid dia menjadi alat untuk ultimate amal shaleh – berperang di jalan Allah dan melindungi jiwa. Kalau sekarang penggunaan situs facebook yang sangat massal – sudah diatas 30 juta di Indonesia  banyak menimbulkan kekawatiran,  ya karena banyaknya kasus penculikan gadis remaja, penipuan dlsb. menggunakan  teknologi ini yang dilakukan oleh orang-orang dhalim tersebut.

Tetapi sesungguhnya teknologi facebook atau sejenisnya juga sangat bisa untuk beramal shaleh secara jama’i. Bayangkan diantara teman-teman dan saudara yang sudah berpisah puluhan tahun – kini bisa saling bersilaturahim menggunakan teknologi ini. Tidak hanya saling bersilaturahim, tetapi kita bahkan juga dapat menggunakan teknologi ini untuk mencapai salah satu tujuan tarbiyah yaitu taa’ruf (saling menenal), tafahum (saling memamahai) dan takaful (saling tolong menolong).

Penggunaan teknologi untuk sarana berbuat baik ini, bahkan sudah ditulis oleh  David T Levinson dengan judul “Everyone Helps, Everyone Wins” (Hudson Street Press, New York 2010). Buku ini menggambarkan dengan rinci, hal-hal baik apa yang Anda bisa lakukan dengan keahlian dan minat Anda untuk membantu orang lain.
 
helpsHelps
Bila Anda seorang akuntan misalnya, Anda bisa bersedeqah dengan waktu-waktu luang Anda untuk membantu membereskan pembukuan lembaga-lembaga sosial yang banyak bermasalah dalam pembukuannya. Bila Anda seorang lawyer, Anda bisa meluangkan waktu untuk membantu orang-orang kecil yang teraniaya secara hukum tetapi tidak tahu harus minta bantuan kemana. Bila Anda seorang arsitek, Anda bisa membantu mendesign rumah yang bisa dibangun dengan cepat dan murah untuk korban bencana yang tidak henti-hentinya di negeri ini.

Lantas dimana Anda menemukan lembaga sosial yang perlu dibantu dari sisi pembukuannya, menemukan orang-orang kecil yang terdhalimi atau menemukan korban-korban bencana tersebut ?. Disinilah teknologi ini berperan melalui setidaknya dua cara. Cara pertama Anda dapat proactive melakukan searching lembaga-lembaga sosial, berita-berita yang menyangkut kasus legal orang kecil dan berita tentang (korban) bencana. Cara yang kedua adalah membuat diri Anda dan kerelaan Anda untuk membantu ini mudah diketahui dan ditemukan oleh orang atau lembaga yang membutuhkannya.

Yang kedua ini bisa menggunakan facebook, twitter, blog dan sejenisnya untuk mengumumkan  niat atau kerelaan Anda untuk membantu. Contoh yang kedua ini misalnya program Pesantren Wirausaha yaitu training, coaching dan mentoring kewirausahaan gratis yang kami umumkan di situs ini Agustus 2009 – hingga kini alhamdulillah telah sampai 14 angkatan, dan bulan depan masuk angkatan ke 15.

Lebih dari sekedar menggunakan teknologi atau situs yang sudah ada, kita juga bisa secara khusus merancang dan mengembangkan teknologi yang sejak awal memang diarahkan untuk mempermudah orang untuk berbuat baik. Contoh untuk yang terakhir ini adalah Project pengembangan situs Food for All untuk mencegah kelaparan yang sudah kami tenderkan melalui undangan terbuka kami tiga pekan lalu.

Dengan beberapa contoh penggunaan teknologi untuk berbuat baik tersebut diatas, maka tidak seharusnya kita terjebak untuk ikut-ikutan berbuat dhalim dengan teknologi ini. Sejak pemikiran-pemikiran kami tentang Dinar dan aplikasinya di jaman modern ini kita buat publik melalui situs ini misalnya – tidak jarang kami mendapatkan serangan pemikiran, hujatan dan sejenisnya baik melalui email maupun tulisan di situs lain yang memojokkan. Kami selalu menghindar untuk membalasnya – meskipun kami bisa.

Lantas apa yang bisa Anda lakukan bila orang lain menghujat, memojokkan ataupun bahkan memfitnah Anda menggunakan teknologi yang sangat mudah menyebar ini ?. Sejauh ini menyangkut diri Anda (bukan menyangkut Agama ini) maka jangan Anda balas dengan hal yang sama – karena bisa jadi dengan membalas tersebut Anda juga terjebak untuk berbuat kedhaliman yang sama. 

Belajarlah dari kisah yang dikabarkan langsung oleh Allah agar menjadi pelajaran bagi kita : “Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa. "Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam."". (QS 5 : 27-28).

Jadi kini ‘pedang’ teknologi itu ada di tangan Anda, Andapun punya waktu baik diluar jam kerja maupun di akhir pekan. Mengapa tidak mulai berpikir serius untuk menempuh peluang amal saleh yang luar biasa ini ?.

Semoga Allah memudahkan jalanNya bagi kita untuk beramal yang diridloiNya. Amin. (Muhaimin Iqbal, Gerai Dinar, 26 Januari 2011)

Selasa, 25 Januari 2011

Inflasi : Proses Pengurangan Timbangan Secara Massal, Salah Siapa...?

Supaya ada rasa empati kita dengan sebagian penduduk negeri ini yang bekerja sebagai pekerja kasar,  marilah kita bayangkan diri kita adalah mereka -  setiap hari kita bekerja keras banting tulang untuk menghidupi anak istri. Sebagai buruh kasar , tahun 2006 kita mendapatkan upah rata-rata Rp 30,000/hari. Sebagian dari kita ada yang beruntung bekerja pada majikan yang usahanya berjalan baik sehingga mampu menaikkan upah 10% per tahun, maka upah mereka ini tahun 2010 lalu telah menjadi Rp 44,000/hari.

Sebagian yang lain bekerja dengan majikan yang usahanya pas-pasan - majikan ini hanya mampu menaikkan upah 5% per tahun – maka upah mereka menjadi Rp 36,500/hari. Sebagian yang lain lagi, majikannya hanya mampu untuk sekedar survive di tengah persaingan dan krisis ekonomi global – mereka tidak mampu menaikkan upah buruh – tetapi masih untung tidak mem-PHK-kan para buruhnya – maka untuk mereka ini upahnya tetap Rp 30,000/ hari hingga kini.

Baik yang bekerja di majikan yang usahanya maju, pas-pasan maupun yang sekedar survive – semuanya sama telah bekerja dengan sangat keras selama lima tahun dari 2006 – 2010 untuk tetap mendapatkan upahnya masing-masing. Sebagai buruh kasar dengan penghasilan antara Rp 30,000/hari s/d Rp 44,000/ hari tersebut – sebagian terbesar dari penghasilan ini habis untuk membeli bahan pangan untuk bertahan hidup sehari-hari.

Di sinilah masalahnya, meskipun mereka tetap terus dapat bekerja keras – dan majikan merekapun dengan kegigihannya mampu mempertahankan lapangan kerja yang ada – dari waktu ke waktu ketika upah hendak kita belikan bahan pangan beras misalnya – terus berkurang beras yang dapat kita bawa pulang untuk keluarga kita.

Dengan penghasilan Rp 30,000/hari tahun 2006 dapat untuk membeli beras sebanyak  9 kg – upah yang sama kini hanya cukup untuk membeli 6 kg beras.  Yang penghasilannya naik 5% per tahun dengan upah Rp 36,500/ hari, kini hanya cukup untuk membeli 7 kg beras. Sedangkan yang naik 10 % per tahun dengan upah Rp 44,000 per hari kini hanya dapat untuk membeli beras 8 kg. Grafik dibawah menggambarkan nilai tukar upah tersebut diatas terhadap beras yang dihitung berdasarkan data inflasi kelompok bahan pangan dari Biro Pusat Statistik.
 
Upah BuruhUpah Buruh Setara Beras...
Lantas siapa yang ‘mengurangi timbangan’ beras kita tersebut ? dengan kerja keras yang sama beras yang dapat kita beli kok terus berkurang dari waktu ke waktu ?. Inilah yang namanya inflasi, maka tugas para pemimpin dan otoritas keuangan dan moneter negeri ini antara lain adalah untuk menjaga agar inflasi serendah mungkin dan tidak boleh melebihi kenaikan daya beli masyarakat.

Inilah yang diingatkan oleh Ibnu Taimiyyah kepada pemimpin negeri di jamannya, “Jumlah fulus ( uang yang lebih rendah dari Dinar dan Dirham seperti tembaga) hanya boleh dicetak secara proporsional terhadap jumlah transaksi sedemikian rupa sehingga terjamin harga yang adil. Penguasa tidak boleh mencetak fulus berlebihan yang merugikan masyarakat karena rusaknya daya beli fulus yang sudah ada di tangan mereka”.

Kegagalan mempertahankan daya beli fulus atau uang kertas sekarang adalah kegagalan untuk menegakkan timbangan – terlihat dari semakin sedikitnya beras yang dapat  ‘ditimbang’ dengan uang yang sama seperti dalam contoh tersebut diatas.

Tegaknya timbangan ini adalah bagian yang amat sangat penting dalam Islam yang muncul di beberapa ayat di Al-Quran. Bahkan Allah mencela orang-orang yang mengurangi timbangan tersebut. “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS 83 : 1-3).

Kalau mengurangi timbangan yang dilakukan oleh individu yang korbannya adalah individu yang lain saja sudah cukup bagi Allah untuk mendatangkan kecelakaan besar, lantas apa yang terjadi bila pengurangan timbangan ini terjadi secara sistematis dan massal – melalui penurunan daya beli mata uang – daya beli hasil kerja keras ratusan juta penduduk negeri ini ?. Mungkin inilah yang perlu jadi renungan para pemimpin negeri ini di eksekutif, legislative maupun yudikatif.

Kita perlu rame-rame mengkampanyekan tegaknya timbangan dalam arti luas, agar Allah tidak menimpakan kecelakaan besar bagi negeri ini. Semoga Allah memberi petunjuk jalanNya yang lurus bagi kita dan para pemimpin kita. Amin. (Muhaimin Iqbal, Gerai Dinar, 25 Januari 2011)

Rabu, 19 Januari 2011

Motivasi Berusaha : Kebahagiaan Ketika Kita Bisa “Memberi”...

Tiga tahun lalu ketika saya memutuskan untuk meninggalkan profesi saya di dunia finansial yang lama – bidang yang saya geluti sampai mentog selama 20 tahun lebih – saya berpamitan dengan rekan-rekan kerja di industri baik yang di dalam maupun yang di luar negeri. Salah satu comment yang saya ingat saat itu adalah ucapan dari mitra saya executive perusahaan raksasa di Jerman, dia bicara begini sama saya “ You have a very strange way to enjoy life...” – kamu ini memiliki cara yang aneh dalam menikmati hidup !. Lama saya berusaha memahami ucapannya ini, bahkan saya juga sempat ragu apakah dengan meninggalkan karir puncak di dunia finansial dan segala macam fasilitasnya – saya dapat memperoleh kebahagiaan yang baru...?.

Secara tidak langsung, perlahan tetapi pasti...kebahagiaan yang baru itu ternyata memang hadir. Dalam bentuknya yang aneh dan sangat berbeda dengan kebahagiaan yang lama.  Saya ingin share di tulisan ini untuk memotivasi rekan-rekan saya yang ingin terjun berusaha – namun masih enggan meninggalkan segala macam fasilitas yang dinikmatinya kini.

Begini antara lain perbedaan kebahagiaan yang lama dengan kebahagiaan yang baru itu  :

Kebahagiaan Lama ( Milik Para Pekerja dan Eksekutif)

·      Ketika mulai bekerja dahulu, hari-hari yang menyenangkan adalah hari-hari menjelang gajian. Sampai ada joke harimau apa yang paling bahagia ? , jawabannya adalah ‘hari mau’ gajian. Mengapa hari-hari menjelang gajian kita berbahagia ?, karena penghasilan kita nyaris tidak cukup untuk keperluan sebulan – maka ketika rekening kita terisi kembali dari posisinya yang nyaris kosong – kita menjadi bahagia.
·      Kebahagiaan lain adalah ketika kita mau menerima tunjangan hari raya, gaji ke 13, bonus tahunan dan sejenisnya. Ini bisa meng-cover kebutuhan lain yang lebih besar seperti mengisi tabungan, membayar uang muka rumah, mobil dlsb.
·      Ketika karir kita terus menanjak dan sampai puncaknya; penghasilan kita sebenarnya tidak lagi habis dikonsumsi dalam satu bulan. Tetapi tetap saja hari mau gajian membuat bahagia karena hari itu uang kita di bank bertambah.
·      Yang lebih membahagiaan bagi kalangan eksekutif adalah ketika tutup buku dengan hasil tahunan yang baik, eksekutif akan mendapatkan bonusnya – yang bisa sangat istimewa – bila perusahaan berkinerja baik.

Kebahagiaan Baru ( Milik Para Entrepreneur)

·      Di awal-awal usaha setiap menjelang akhir bulan adalah waktu yang menegangkan, bisa nggak ya kita memberi gaji para karyawan kita tepat waktu ?. Selepas gajian, tabungan kita di bank tersedot nyaris habis tetapi ada kebahagiaan yang tidak kalah hebatnya dengan yang dialami karyawan yang menerima gaji – yaitu kebahagiaan karena mampu memberi gaji seluruh karyawan di payroll-kita.
·      Setelah perusahaan berjalan baik, ketegangan menjelang gajian ini tidak lagi muncul – tetapi kebahagiaan itu tetap ada disana – yaitu bahagia bisa memberi gaji.
·      Karena bahagia itu ada disana – ketika rekening kita berkurang – berpindah keorang lain yaitu untuk menggaji para karyawan; maka lama kelamaan ‘hari mau’ gajian ini juga menjadi kebahagiaan rutin tersendiri. Setiap sabtu sore misalnya, saya melihat sekian puluh karyawan yang bekerja di peternakan Jonggol Farm – pulang dengan bahagia ke keluarganya masing-masing - hari itu mereka pulang membawa gaji mingguannya. Ternyata bukan hanya mereka yang berbahagia, saya juga ikut merasakan kebahagiaan yang luar biasa  karena sampai hari itu kita masih dipilih Allah untuk ‘dilewati’ rizkiNya yang hendak dibagikan ke puluhan karyawan tersebut.
·      Kebagiaan ini bertambah besar manakala kita mampu memberi tunjangan hari raya atau sejenisnya.

Jadi ternyata ada perbedaan yang mendasar yang terkait dengan uang saja (tentu banyak sekali kebahagiaan lain yang tidak terkait dengan uang sama sekali !) dari sewaktu kita menjadi karyawan atau eksekutif dengan ketika kita terjun menjadi entrepreneur. Kelompok yang pertama bahagia ketika rekeningnya bertambah dari gaji atau bonus, kelompok yang kedua pun tetap bisa tidak kalah bahagianya ketika rekening berkurang untuk membayar gaji atau THR.


Kebahagiaan dengan memberi ternyata tidak hanya milik Umat Islam yang dalam tuntunan agamanya didorong untuk banyak-banyak ‘memberi’  dalam berbagai bentuknya baik yang bersifat wajib seperti membayar zakat, membayar upah pekerja dan sejenisnya ; maupun yang sifatnya sunah seperti infaq untuk kegiatan sosial ,bantuan kemanusiaan  dlsb.

Apa yang dilakukan oleh Bill Gates dan Warren Buffet ini juga dapat menjadi pelajaran bagi kita, bahwa ternyata kebahagiaan itu tidak hanya timbul ketika uang terus bertambah banyak – tetapi kebahagiaan juga timbul dari ‘memberikan’ hasil dari jerih payah bertahun-tahun untuk orang lain yang lebih membutuhkan.

Kalau saja orang-orang kaya negeri ini mengikuti anjurannya Bill Gates dan Warren Buffet, korban-korban kelaparan insyaAllah tidak akan terus bermunculan di negeri ini. Lebih jauh lagi kalau saja kita bisa mengikuti prinsip 1/3 seperti yang dicontohkan dalam hadits yang sahih, insyaAllah Allah akan terus menurunkan ‘hujan’ rizki ke kita – bahkan ketika negeri lain dilanda ‘paceklik’ krisis finansial. InsyaAllah (Muhaimin Iqbal, Owner Gerai Dinar, 19 Januari 2011)

Menghindar Dari Proses Pemiskinan Jabariyah, Bagaimana...?

(Cuplikan dari judul artikel diatas).....
....ada dua jenis kemiskinan yaitu kemiskinan  ikhtiariah dan kemiskinan jabariyah. Kemiskinan ikhtiariah adalah kemiskinan yang terkait dengan ikhtiar seseorang itu sendiri, ada yang mau bekerja keras untuk melawan kemiskinan sehingga bebas darinya dan ada pula yang malas bekerja sehingga kemiskinan menimpanya. Kemiskinan jabariyah lebih bersifat systematis, orang sudah bekerja sangat keras tetapi system yang membuatnya tetap miskin. Lantas masuk kategori yang mana kemiskinan yang melanda negeri ini ?, mari kita lihat faktanya.

Harian kompas pagi ini memuat hasil riset litbang mereka yang antara lain menyatakan bahwa  59.24% penduduk Indonesia tergolong miskin dengan pengeluaran per kapita kurang dari US$ 2 /hari; 29.93% tergolong menengah bawah dengan pengeluaran US$ 2 – US$ 4/hari.  9.7 % tergolong menengah dengan pengeluaran US$ 4 – US$ 10/hari. 0.96 % tergolong menengah atas dengan pengeluaran US$ 10- US$ 20/hari. Dan sisanya 0.17% tergolong masyarakat kelompok atas yang berpengeluaran diatas US$ 20/hari.

Saya ambil saja batas yang berpengeluaran US$ 4/hari atau US$ 1,460/tahun atau  setara dengan Rp 13.4 juta /tahun.  Angka-angka ini bila dikonversikan dengan Dinar menjadi sekitar 7.9 Dinar per tahun atau mendekati 40% dari nishab zakat yang 20 Dinar.

Jadi bila kita padukan riset-nya litbang Kompas tersebut dengan standar nishab zakat, maka ada 89.17% penduduk negeri ini yang berpengeluaran sama dengan atau kurang dari US$ 4/hari. 89.17% penduduk ini dari kacamata standar kemiskinan menurut Islam kategorinya jelas miskin karena pengeluarannya (kemampuannya untuk membeli barang kebutuhan) kurang dari 40% dari nishab zakat. 89.17% dari 237 juta penduduk Indonesia adalah 211 juta orang – inilah yang masuk kategori miskin berdasarkan standar  nishab zakat yang baku sepanjang zaman !.

Menggunakan nishab zakat sebagai tolok ukur pembeda si kaya dan si miskin ini selain akurat juga stabil sepanjang zaman sehingga angkanya tidak pernah perlu diubah. Bayangkan yang menggunakan standar US$ yang dari waktu kewaktu perlu terus di adjust, demikian pula standar Rupiah dan mata uang kertas lainnya.

Bila yang masuk kategori miskin adalah 211 juta orang atau 89.17% dari penduduk; mungkinkan ini karena faktor ikhtiariayah ? 211 juta orang males atau tidak mampu bekerja dengan baik ?. Saya yakin sekali bukan ini penyebabnya. Bisa saja ada sedikit orang yang memang miskin ikhtiariyah – tetapi mayoritasnya pasti karena kemiskinan jabariyah.

Jabariyah dari kata “jabara” yang artinya memaksa; kemiskinan jabariyah adalah kemiskinan yang timbul karena lingkungan atau system yang memaksa orang menjadi miskin. System seperti apakah yang ‘memaksa’ orang menjadi miskin ini ?. Berikut adalah beberapa contoh diantaranya.

System keuangan yang membuat sebagian besar masyarakat pekerja menabung dalam berbagai bentuknya seperti tabungan, deposito, asuransi, dana pensiun dlsb. yang memberikan ilusi nilai. Seolah hasil jerih payah para pekerja tersebut tersimpan untuk berbagai kebutuhan yang akan datang, tetapi ternyata inflasi menggerogotinya lebih cepat dari bertambahnya nilai.

Penelantaran sumber-sumber daya alam kita karena banyak yang lebih suka menguasainya daripada memakmurkannya. Dikala ratusan ribu tenaga kerja kita bekerja sebagai buruh kasar di tanah-tanah perkebunan negeri jiran, puluhan perkebunan di daerah jawa barat – yang hanya beberapa jam dari Jakarta – terlantar tidak terolah.

System pasar yang membuat yang kaya semakin kaya dan yang miskin bertambah miskin karena tidak memiliki akses pasar. Pak haji dan bu haji yang biasa membuka warung berjualan untuk masyarakat sekitarnya – kini menjadi terlalu berat untuk hanya bisa sekedar bertahan. Bahkan sampai ke pelosok-pelosok perkampunan hanya ada dua nama besar jaringan retail yang begitu eksis – yang seolah membuat perdagangan retail rakyat kecil tidak berdaya melawannya.

Dan berbagai system lain yang telah membuat rakyat kebanyakan pemilik seekor kambing kalah berdebat dengan pemilik 99 ekor kambing – dan harus menyerahkan satu-satunya kambing yang dimilikinya.

Lantas apakah kita akan menyerah dengan system yang memiskinkan ini ?, InsyaAllah tidak. Al-Qur’an memberi kita solusi hijrah ketika menghadapi situasi seperti ini.

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". (QS 4 :97).

Jadi solusinya adalah berhijrah; namun dalam menghadapi kapitalisme yang menindas dewasa ini kita tidak bisa berhijrah dalam arti pindah dari satu negeri ke negeri lain; karena kapitalisme ini menindas di hampir seluruh negara di dunia. Bahkan di negara-negara adidaya-pun rakyatnya tertindas oleh kapitalisme, lebih dari itu kapitalisme juga membuat bangkrut negara penganut kapitalisme itu sendiri seperti cerita Erisychthon dari Mythologi yunani kuno.

Karena yang menindas dan memiskinkan kita adalah system kapitalisme, bukan negara dan bukan pejabat – maka hijrahnya kita adalah meninggalkan system yang memiskinkan ini. Bisakah kita melakukan ini ?, insyaAllah ‘kudubisa’!, tulisan saya tanggal 11 januari 2011 adalah salah satu saja dari sekian banyak cara berhijrah secara systemic itu. InsyaAllah. (Muhaimin Iqbal, Owner Gerai Dinar, 14 Januari2011)

Selasa, 11 Januari 2011

Semangat ‘KuduBisa’ Untuk Menghadirkan Kemakmuran…

Sepanjang Desember 2010 lalu ada fenomena yang luar biasa di negeri ini yaitu fenomena demam sepakbola yang melanda jutaan penggemarnya, dari rakyat jelata sampai presiden. Deman yang satu ini menjadi demam yang membuat ‘penderita’nya rela berhari-hari tidur dan makan seadanya di Jakarta – meninggalkan keluarga yang jauh di kampung – demi untuk mendukung dan menyaksikan langsung team kebanggaannya bertanding di medan laga. Demam ini juga menyita begitu banyak perhatian para pemimpin negeri, sehingga mereka rela  sementara meninggalkan urusan rutin yang lainnya – yang tentu saja tidak kalah pentingnya – demi untuk memberi semangat para pejuang lapangan hijau.

Saya hanya ingin  mengambil positifnya saja, yaitu suatu pelajaran bahwa bila ada alasan yang tepat  - jutaan rakyat negeri ini bisa digerakkan untuk sesuatu tujuan yang positif. Ketika team nasional kita berlaga, tidak ada lagi dinding partai, agama, suku dan tingkatan sosial – semuanya berdoa dengan keyakinannya masing-masing dan memberi dukungan agar kita bisa jadi juara.

Lantas bisakah kita menggunakan kekuatan yang sama untuk tujuan yang lebih mulia lagi misalnya untuk mencegah kelaparan, mengatasi kemiskinan dan membangun kemakmuran ?. Seharusnya bisa, bila kita temukan alasannya yang tepat pula.

Maka dalam skala mikro, mulai dari lingkungan dimana kita berada – baik fisik maupun virtual – kita ingin mulai menularkan bentuk ‘demam’ yang lain – yang awalnya tentu tidak sebesar demam sepak bola tersebut diatas, namun siapa tahu – bila Allah berkehendak menggerakkan hati-hati kita semua – bisa saja ini menjadi gerakan massal yang sangat besar nantinya.

Virus demam yang ingin kita tularkan ini adalah semangat ‘KuduBisa’.  Awalnya kita arahkan untuk tiga hal tersebut diatas yaitu kita ‘KuduBisa’ mencegah kelaparan, ‘KuduBisa’ mengatasi kemiskinan dan tentu saja ‘KuduBisa’ membangun kemakmuran. Setelah tiga hal tersebut bisa kita solve dengan semangat ‘KuduBisa’ ini ; insyaallah kelak berbagai masalah dan tantangan lain yang ada di masyarakat juga ‘KuduBisa’ diatasi.

Seperti apa implementasinya di lapangan ?,  saya ambilkan contoh aplikasinya di GeraiDinar. Misi awal GeraiDinar yang sudah kita perkaya dengan misi yang lebih luas dengan semangat ‘KuduBisa’ tersebut dapat dilihat di diagram dibawah .

Misi Kudu BisaMisi Kudu Bisa
 
Untuk mencegah problem kelaparan terus berulang menimbulkan korban, kami sedang mengundang dream team pilihan untuk bisa membuatkan solusi berbasis web 2.0 yang insyaallah akan memungkinkan teridentifikasi dan terverifikasinya dengan akurat problem kelaparan di masyarakat, sekaligus juga terbangun jaringan sumber-sumber pendanaannya.

Untuk mengatasi kemiskinan sekaligus membangun kemakmuran, ada program kami yang sudah mulai berjalan seperti Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin yang sudah mulai menghasilkan beberapa usaha. Akses terhadap capital juga sudah mulai terbangun melalui program Mudharabah Muqayyadah dan  private equity. Saat ini kami juga sedang menjajagi kerjasama dengan beberapa BMT lain dan juga bank syariah untuk mengembangkan program pembiayaan micro berbasis Dinar yang nantinya kita sebut MicroDinar.

Untuk mempercepat tumbuhnya usaha-usaha lain dari sumber-sumber pembiayaan lain, sehingga juga cepat tercipta lapangan kerja-lapangan kerja yang baru – saat ini sudah ada dream team yang lain yang sedang menyiapkan BursaIde untuk kami.  Situs yang kami tergetkan menjadi idea management centre ini, insyaallah akan menjadi ideagoras kita di negeri ini – tempat bertemunya ide-ide brilliant dengan sumber daya yang diperlukan untuk mengimplementasikannya.

Satu hal lagi yang secara konsep sudah kami matangkan adalah Medina Market, yaitu akses pasar yang menjadi hak semua orang dan tuas pengungkit yang sangat vital dalam menumbuh kembangkan kemakmuran. Saat ini project Medina Market tersebut sedang dalam proses pemilihan lokasi yang pas untuk modelnya. Target kami model pertama Medina Market insyaAllah ‘KuduBisa’ direalisir tahun ini juga.

Lantas dimana posisi GeraiDinar diantara misi yang menjadi sangat luas tersebut ?. GeraiDinar tetap dalam posisinya yang semula, yaitu menyediakan instrumen investasi dan proteksi nilai – agar semua jerih payah kita tersebut diatas – tidak  habis ditengah jalan karena tidak lagi dibawa dalam ember bocor yang namanya inflasi.

Dalam Islam kita tidak dianjurkan untuk berangan-angan; bahkan Allah sangat benci bila kita hanya bicara tetapi tidak berbuat. “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” (QS 61 : 2-3). Maka semua yang kita katakan dan rencanakan tersebut diatas juga ‘KuduBisa’ kita laksanakan.

Salah satu bentuk apa yang sudah kita mulai laksanakan dalam penciptaan lapangan kerja misalnya adalah gambar dibawah. Mungkin Anda menyangka ini adalah gambar hanggar pesawat ?. Bukan, ini hanyalah kandang kambing teknologi tinggi berbasis composites yang sudah mulai di install di pesantren dan peternakan JonggolFarm.  Gagasan untuk project tersebut kami muat pula di situs ini sekitar 6 bulan lalu dengan judul Problem Solving Par Excellence…

 
Instalasi Kandang CompositesProses Instalasi Kandang Composites
Maka kami sangat ingin berbagi semangat ‘KuduBisa’ ini dengan para pembaca, karena kalau wabah ‘KuduBisa’ ini bisa menyebar – seberat apapun tantangan yang dihadapi bangsa dan umat ini – insyaAllah ‘KuduBisa’ pula diatasi. Amin. (Muhaimin Iqbal, owner Gerai Dinar, 11 Januari 2011)

Trend Harga Emas (emas24.com)



Harga Emas Dunia Dalam 24 Jam

24 Hours Gold Price

24 Hours Gold Price