Dinar dan Dirham



Dinar dan Dirham
Dinar adalah mata uang berupa koin yang terbuat dari emas dengan kadar 22 karat (91,7 %) dan berat 4,25 gram. Dirham adalah mata uang yang terbuat dari Perak Murni dengan berat 2,975 gram. Dinar dan Dirham adalah mata uang yang dipakai pada zaman Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam . Pada era kekhalifahan Umar bin Khatab, ditetapkan bahwa Dinar dan Dirham memiliki standart seperti tersebut diatas. Di Indonesia, Dinar dan Dirham diproduksi oleh Logam Mulia, unit bisnis dari PT Aneka Tambang, Tbk, dan disertai Sertifikat setiap kepingnya. Keaslian dan keakuratan berat dan kadarnya telah diuji dan disertifikasi oleh KAN (Komite Akreditasi Nasional) dan oleh LBMA (London Bullion Market Association). Dinar dan Dirham saat ini belum diakui secara resmi oleh Pemerintah sebagai alat tukar, sehingga pengenalan kembali Dinar dan Dirham di kalangan umat, digunakan pendekatan sebagai bentuk investasi/tabungan dan pelindung aset/harta umat. Dinar sebagai mata uang yang berasal dari Dunia Islam, sepanjang sejarah telah terbukti memiliki daya beli yang stabil lebih dari 1400 tahun. Dalam kurun 40 tahun terakhir, Rupiah mengalami penurunan daya beli akibat INFLASI rata-rata 8 % per tahun, sedangkan US Dollar mengalami penurunan rata-rata 5 % per tahun. Sebaliknya dalam kurun waktu yang sama, nilai Dinar mengalami kenaikan nilai rata-rata 28,73 % per tahun terhadap Rupiah dan kenaikan rata-rata 10,12 % per tahun terhadap US Dollar. Bandingkan dengan bagi hasil Deposito di Bank yang berkisar 6 % - 8 %. Dinar dapat digunakan sebagai investasi/tabungan jangka menengah/panjang, sangat cocok untuk rencana jangka panjang seperti menunaikan ibadah haji, biaya pernikahan anak, biaya sekolah anak, biaya membeli/perbaikan rumah, warisan (Islam melarang kita meninggalkan keturunan yang lemah) dan lain sebagainya. Beban biaya dan kebutuhan hidup yang semakin berat memang tidak terasa ... dengan asumsi inflasi 7,5 % per tahun saja, biaya hidup kita dalam Rupiah akan meningkat lebih dari 100 % dalam 10 tahun mendatang. Kekuatan khasanah keadilan mata uang Dinar dapat dimanfaatkan untuk melindungi aset/harta kita dari kehancuran/penurunan nilai uang seperti yang pernah terjadi di Indonesia, yaitu Sanering Rupiah tahun 1965 dan Krisis Moneter tahun 1997-1998.


Grafik Harga Dinar dalam IDR dan Dollar
Gerai narDinar Bangkalan
Dinar Emas memiliki 3 fungsi : Sebagai alat tukar, Timbangan yang adil dan Perlindungan nilai. Dinar emas untuk membangun ketahanan ekonomi dan memakmurkan umat tetapi tidak untuk ditimbun!.
Jual Beli Dinar Emas dan Dirham Perak Bersertifikat produksi PT Aneka Tambang (Antam) persero dan PT Peruri (Persero)
Jl. Nangka, Kamal Madura 69162
Kontak:
Amy : 081554481448
Email : gerainardinarbkl@gmail.com

Dapatkan discount belanja 10 % untuk pembelian produk Thibbunnabawy dan herba di Toko herba online BaherbA (www.baherba.blogspot.com), bagi setiap pembelian dinar di Gerai narDinar.

Trend Harga Dinar Dalam 3 Bulan

Tampilkan postingan dengan label Enterpreneurship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Enterpreneurship. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Maret 2011

Melawan Inflasi Yang Memiskinkan : Bila Yang Kita Punya Hanya Diri Kita...

Dalam beberapa tulisan saya, antara lain tulisan tanggal 4 Januari 2011 tentang “Food For All...” , telah saya ungkapkan betapa dasyatnya inflasi memiskinkan kita – khususnya inflasi bahan pangan -  yang persisten diatas kenaikan rata-rata pendapatan kita setiap tahunnya. Karena trend naiknya harga pangan ini belum nampak berbalik atau berubah arah, hanya ada satu cara untuk melawanya – yaitu kita sendiri yang harus berusaha maksimal mengalahkan trend tersebut. Tetapi bagaimana kita bisa mengalahkan inflasi ini ?.

Melawan inflasi adalah seperti perang menghadapi musuh yang akan merenggut kekayaan dari hasil jerih payah kita, musuh yang akan menjajah dan mengeruk kekayaan kita. Seperti juga perang, maka ada dua strategi yang bisa digunakan yaitu strategi bertahan (defensif) dan strategi menyerang (ofensif).  Pencapaian maksimal dari strategi defensif adalah berhasilnya kita mempertahankan harta dari serangan inflasi. Strategi defensif sendiri tidak akan membuat kita unggul – ya hanya sebatas membuat kita mampu bertahan tadi.

Sebaliknya  strategi menyerang atau ofensif  berpeluang kita unggul dan mampu mengalahkan inflasi,  hanya saja untuk ini memang diperlukan keunggulan kekuatan sehingga peluang kita untuk mampu mengalahkan musuh yang bernama inflasi tersebut memang harus lebih besar dari peluang kalahnya. Lantas strategi mana yang kita pilih ?, saya lebih suka menggunakan kata ‘dan’ yang berarti keduanya , ketimbang menggunakan kata ‘atau’ yang membuat kita bimbang untuk memilih diantara keduanya.

Dinar emas yang sudah sejak sekitar 3 tahun lalu kita perkenalkan ke masyarakat misalnya, terbukti efektif untuk mengisi strategi defensif tersebut diatas. Rata-rata apresiasi emas terbukti mampu mengalahkan rata-rata inflasi bahan pangan sekalipun – yang merupakan komponen inflasi tertinggi di negeri ini.

Namun dengan strategi defensif melalui simpanan Dinar saja tidak membuat orang bertambah makmur – ya hanya membuat kita mampu bertahan tadi. Dengan strategi defensif ini yang kaya tetap kaya , sedangkan yang kekurangan tetap akan kekurangan. Maka meskipun strategi ini juga kita gunakan secukupnya, saya tidak menganjurkan kita terlalu banyak menaruh resources kita di strategi ini.

Bila ada kecukupan resources (modal, tenaga dlsb), saya sangat condong untuk menajak kita semua  terjun rame-rame di sektor riil seperti perdagangan, pertanian, industri dlsb. atau bidang-bidang yang kita kuasai betul – yang kita bisa jagokan untuk senjata perang melawan inflasi. Berat memang dan penuh risiko, tetapi insyaAllah jerih payah ini akan rewarding.

Bila kita memiliki resources yang cukup untuk membangun dua strategi tersebut yaitu defensif maupun ofensif melawan inflasi, maka itu yang ideal. Masalahnya adalah situasi ideal ini justru yang paling jarang kita miliki. Situasi ideal hanya enak diomongkan atau ditulis tetapi jarang kita jumpai di lapangan yang nyata.

Lantas apa yang bisa kita lakukan bila kita tidak cukup resources untuk membiayai perang kita ini ? tidak ada modal emas atau Dinar untuk bertahan melawan inflasi, apalagi untuk modal berusaha ?. Jangan terlalu kawatir, diri kita sesungguhnya adalah modal yang paling berharga yang bisa kita gunakan sebagai senjata pamungkas untuk berperang dibidang apapun – termasuk berperang melawan inflasi ini.

Bagaimana cara menggunakannya ?, berikut adalah langkah step by step yang antara lain bisa kita lakukan.

Pertama mengasah skills bawaan kita dari lahir yaitu ‘jualan’.  Ketika kita haus di gendongan ibu kita, kita melakukan sales speak dengan menangis – maka dapatlah kita air susu ibu. Keahlian ini terus terasah ketika kita meminta sepatu baru, tas sekolah baru, mengambil hati calon mertua kita dst. Kini skills yang sudah kita asah sejak lahir tersebut tinggal di fine-tuneuntuk ‘menjual’ gagasan-gagasan besar kita, produk-produk yang kita hasilkan,  misi yang kita ingin tuju dlsb.dlsb.

Kedua membangun identitas diri yang orisinil milik kita. Seperti wajah dan sidik jari kita, Maha Kuasa Allah yang telah menciptakan diri kita unique – dari milyaran orang yang ada di bumi – tidak ada satupun yang sama persis dengan diri kita – maka seluruh potensi yang ada di diri kita juga unique – tidak ada seorang pun yang menyamainya. Hanya kita sendiri-lah yang bisa  menemukan dan membangun seluruh potensinya yang ada pada diri kita tersebut.

Ketiga ber-investasi pada diri kita sendiri. Ilmu kita tidak akan pernah cukup, Skills kita juga tidak akan pernah sempurna – maka dari waktu kewaktu yang perlu terus kita lakukan adalah berinvestasi kembali pada diri kita untuk terus belajar dan menambah ilmu, untuk terus berlatih mengasah skills.

Keempat bukan berganti kotak tetapi memperbesar kotak. Setelah identitas diri atau brand identity kita terbangun dengan baik, maka jangan kita tergoda untuk think outside the box - selain amat sulit karena kita akan memulainya dari nol – juga akan merusak brand identityyang sudah dengan susah payah kita bangun. Sebaliknya yang kita perlu terus lakukan adalah grow the box , sehingga dari waktu ke waktu ruang lingkup cakupan pekerjaan kita semakin luas – bukan berganti satu pekerjaan ke pekerjaan lain tetapi sama-sama sempitnya.

Kelima fokus pada kerja karena inilah yang bisa kita lakukan, sedangkan hasil itu diluar kemampuan kita untuk menentukannya. Kesadaran untuk memilah mana yang tugas kita (bekerja) dan mana yang hak Allah untuk menentukan (hasil)-nya ini akan membuat kita lebih ikhlas menerima hasil apapun dari kerja maksimal kita, juga kita tidak akan menghalalkan segala cara untuk mengalahkan musuh kita – yaitu  inflasi yang memiskinkan kita tersebut diatas.

Maka, prajurit tangguh yang siap berperang ini sekarang ada di diri kita, inflasi-pun insyaAllah akan bisa kita kalahkan !. Amin (Muhaimin Iqbal, Gerai Dinar, 10 Maret 2011)

Mata Air Di Pojok Sawah...

Di pojok sawah kami di Jonggol ada mata air kecil yang terus mengalirkan air jernih untuk mengairi beberapa petak sawah yang kami tanami padi. Karena sumber air ini kecil, maka tidak perlu saluran khusus untuk mengalirkannya. Air langsung mengalir ke petak pertama dari sawah kami yang langsung berhubungan dengan mata air tersebut, kemudian di ujung yang lain dari petak pertama ini kami buat lubang di pematangnya untuk menyalurkan air ke petak kedua. Begitu seterusnya sampai seluruh petak sawah kami terairi dari sumber air yang kecil ini.

Tidak berhenti disini, di pematang petak paling ujung kami yang berbatasan dengan petak orang lain-pun kami buat lubang sehingga air bisa mengairi petak-petak sawah orang berikutnya. Ketika saya pernah coba  telusuri sampai dimana air ini mengalir. Subhanallah ternyata air tersebut terus mengalir sampai jauh – sampai saya tidak tahu lagi dimana berhentinya.

Apa yang akan terjadi seandainya air dari mata air tersebut kami bendung untuk membuat kolam ikan sendiri misalnya ?, dari hitungan ekonomis yang kami lakukan, dengan adanya mata air tersebut kolam ikan sebenarnya diatas kertas lebih menguntungkan bagi kami dari pada sawah. Tetapi bila membendung air untuk kolam ini yang kami lakukan, maka betapa banyak sawah orang lain yang mati karena tidak lagi mendapatkan air yang diperlukannya.

Lebih jauh lagi kami juga berpikir, bagaimana bila air dari mata air tersebut sebenarnya bukan (hanya) untuk kami –tetapi memang untuk seluruh pemilik sawah di daerah tersebut, berhakkah kami membendungnya untuk kolam ikan ?. Maka dari mengikuti perjalanan air dari mata air di pojok sawah kami ini, ada pelajaran yang luar biasa bagi kami untuk memperbaiki sikap terhadap harta. Saya share disini agar lebih banyak yang bisa ikut mendapatkan pelajarannya.

Sama seperti mata air di pojok sawah tersebut, setiap kita diberi ‘mata air’ rizki di ‘pojok sawah’ kita masing-masing. Bisa bersifat materi, bisa juga yang non materi (ilmu misalnya). Ada yang besar dan ada pula yang kecil – itu fitrah, tetapi kita semua diberi tahu oleh Yang Memberi ‘mata air’ tersebut bahwa “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian” (QS 51:19).

Bagaimana kalau ‘mata air’ rizki yang ada di kita tersebut kita bendung, tidak kita alirkan ke sawah sebagaimana mestinya, tidak kita ijinkan orang lain membuat lubang di ujung pematang agar ikut mendapatkan ‘air’ dari mata air di ujung sawah kita ? betapa banyak ‘sawah’ orang lain yang akan mati karenanya. Bisa jadi karena banyaknya orang yang membendung ‘mata air’-nya  sehingga sebagian terbesar penduduk negeri ini jatuh pada kemiskinan  menurut standar Islam.

Mengalirkan ‘air’ rizki tidak harus melalui sedeqah, bisa dengan cara yang produktif seperti menanam padi di sawah tersebut diatas – yaitu menciptakan kegiatan ekonomi yang mendatangkan lapangan kerja bagi orang lain. Bahkan melalui lapangan kerja inilah distribusi ‘air’ rizki bisa lebih elegan, selain bisa berkesinambungan juga lebih bisa menjaga kehormatan penerimanya.

Tentu saja kemampuan untuk ‘mengalirkan air’ ini berbeda-beda dari satu orang ke orang lain, tetapi ini juga bukan alasan untuk kita tidak mengalirkan air tersebut. Saya terus terang tidak bisa bertani dan bertanam padi misalnya – tetapi orang di Jonggol banyak sekali yang bisa melakukannya menggantikan tugas saya.

Begitulah Islam sebagai agama yang sempurna di akhir jaman, pasti bisa menjawab seluruh tantangan jaman ini. Bila saya punya uang tetapi tidak memiliki keahlian, maka saya bertindak sebagai shahibul mal dan mencari mudharib yang capable dan amanah untuk ‘mengalirkan air’ tersebut.  Sebaliknya dalam bidang yang lain saya punya keahlian – tetapi tidak punya uang, maka saya bertukar tempat menjadi mudharib dan mencari para shahibul mal yang ingin ‘mengalirkan air’-nya lewat kemampuan saya. Banyak sekali bentuk kerjasama dengan aqad-aqad yang syar’i yang telah dicontohkan, yang semuanya insyaallah bisa menjamin agar air tetap dan terus mengalir.

Salah satu project percontohan untuk pembelajaran ‘mengalirkan air’ ini insyaAllah dalam sebulan dua bulan kedepan Bazaar Madinah yang pertama bisa beroperasi di Depok. Masyarakat di sekitar lokasi sudah kita beri formulir untuk mendaftarkan diri sebagai pedagang di Bazaar Madinah tersebut, sebagian sudah ada yang mempunyai ide konkrit jualan apa – sebagian yang lain juga belum.

Di sisi lain ada sejumlah pembaca situs ini dari tempat yang jauh ingin ikut berdagang, mereka punya dagangan-dagangan yang sebenarnya menarik – namun menjadi tidak ekonomis bila harus berdagang sendiri di Bazaar Madinah.  Maka problem pertama – penduduk setempat yang berminat berdagang tetapi tidak memiliki barang dagangan – bisa kami ‘jodohkan’ dengan problem kedua – pemilik dagangan dari tempat yang jauh, untuk saling bekerjasama ‘ mengalirkan air’. Yang satu bertindak sebagai mudharib, yang lain bertindak sebagai shahibul mal.

Lantas bagaimana kami bisa membuat dua pihak yang tidak saling mengenal ini dapat saling memberi kenyamanan untuk bekerja sama secara adil ?. Di Bazaar Madinah kami sediakan system kasir bersama, seluruh penjualan melalui kasir bersama ini. Maka dua orang yang kami ‘jodohkan’ untuk saling ber syirkah tersebut misalnya, bisa menunjuk kasir bersama kami sebagai pihak ketiga yang akan meng-adimistrasi-kan bagi hasil yang adil untuk keduanya. Setiap transaksi penjualan bisa langsung terbagi ke tiga pihak, mudharib yang jualan, shahibul mal yang memiliki barang/modal dan kami sebagai ganti ongkos tempat, keamanan, kebersihan dan pekerjaan administrative pengelolaan bagi hasil ini.

Banyak sekali cara lain yang bisa kita gosok menjadi intan berlian dari ‘mata air’ yang ada di ‘sudut sawah’ kita, maka jangan biarkan air dari ‘mata air’ tersebut dibendung atau dibiarkan menggenang. Fitrahnya air adalah mengalir, fitrahnya harta dia harus berputar. InsyaAllah. (Muhaimin Iqbal, Gerai Dinar, 9 Maret 2011)

‘Intan Berlian’ Di Sekitar Kita, Bagaimana Menggosoknya...?

Pada Acara piala sepak bola dunia 2006 di Jerman, saya termasuk yang memperoleh pengalaman luar biasa bisa menyaksikan acara bergengsi yang menjadi perhatian seluruh dunia tersebut secara langsung di balkon VIP FIFA Arena - Munich. Bukan hanya itu, layanan VIP juga diberikan oleh tuan rumah yang saya kunjungi sejak saya turun dari pesawat.  Tidak seperti biasanya ketika kita masuk negeri orang harus antri melalui jalur custom dlsb., hari itu mereka mengirim limousine langsung ketangga pesawat – agar saya bisa dibawa melalui jalur khusus – yang tidak perlu berurusan dengan custom, bagasi dan tetek bengeknya. Mengapa mereka memberikan penghargaan secara luar biasa – bak para bintang World Cup – ke saya hari itu ?. Itu karena ada perusahaan raksasa negeri itu yang eager sekali - ingin belajar tentang konsep ekonomi Islam dari saya !.

Di Jerman saat itu sedang digodog peraturan baru tentang asuransi kesehatan swasta yang mereka pandang selama ini berjalan kurang adil kepada para pemegang polisnya. Kita tahu di Jerman dan  seluruh dunia (termasuk di Indonesia hingga saat ini), semakin tua seseorang akan membayar premi asuransi kesehatan yang semakin mahal – katanya karena faktor risiko yang semakin tinggi.

Tetapi perusahaan asuransi (sengaja) lupa dalam satu hal, bahwa rata-rata orang yang bekerja membayar premi asuransi kesehatan sampai 20 tahun lebih – tanpa klaim , ini adalah rentang waktu rata-rata sejak orang memasuki dunia kerja awal usia 20-an sampai usia awal 40-an, mayoritas orang tidak pernah masuk rumah sakit di rentang usia ini. 

Peluang orang masuk rumah sakit menjadi lebih tinggi setelah usianya di pertengahan 40-an keatas, maka disinilah perusahaan asuransi mengenakan premi yang mahal itu. Sepintas nampak seolah logikanya benar, tetapi logika ini di challenge oleh para pembuat peraturan di Jerman – yang mempertanyakan : "lantas dimana premi yang dibayar rata-rata orang sejak usia 20-an sampai awal 40-an tersebut ?". Dari sinilah awal muawal-nya mereka menggodog peraturan yang tidak akan lagi mengijinkan perusahaan asuransi kesehatan swasta negeri itu menaikkan premi kepada nasabahnya – hanya karena nasabah tersebut bertambah tua !.

Di tengah kepusingan mengantisipasi peraturan yang baru tersebut, salah seorang eksekutif perusahaan raksasa negeri itu mendengarkan ceramah saya di Singapore tentang konsepta’awun dalam memikul biaya kesehatan yang bisa diterapkan di jaman modern sekalipun. Bahwa perusahaan asuransi tidak seharusnya mengakui premi yang dibayarkan nasabahnya sebagai pendapatan mereka. Premi tetap milik nasabah mereka (secara bersama-sama) sampai kapanpun, hak perusahaan hanyalah fee atau ujroh atas pengelolaannya yang besarnya disepakati dengan nasabah di awal masa pertanggungan.

Maka selesai seminar, eksekutif  tersebut mendekati saya dan mengundang saya untuk menjelaskan konsep tersebut lebih detil di negerinya - Jerman. Agar saya tidak menolaknya, maka mereka memberikan penawaran yang luar biasa – yaitu atas kesediaan saya ceramah satu jam di negerinya – mereka akan membayari tiket VIP World Cup lengkap dengan layanan VIP sejak turun pesawat seperti yang saya ceritakan di awal tulisan ini.

Terus terang sebenarnya saya bukan penggila bola, saya penuhi undangan tersebut juga bukan karena layanan VIP-nya. Tetapi yang menarik saya waktu itu adalah mengapa orang-orang diluar Islam begitu antusiasnya mempelajari detil tentang syariat ini dan bagaimana aplikasinya di bisnis mereka. Sebelum di Jerman tersebut, beberapa kali saya juga berkesempatan menceramahkan konsep ta’awun di Lloyd of London – pusat keuangannya Inggris. Dari diskusi dengan para eksekutif tersebut-lah saya tahu bahwa mereka sedang mencari solusi atas masalah-masalah yang mereka hadapi, dan solusi ini bisa jadi datang dari Islam.

Ironi memang, disatu sisi sebagian mereka membenci Islam tetapi sebagian yang lain mengakui keunggulan solusi-solusinya. Sehingga jangan heran misalnya di beberapa negara yang Islam dibenci oleh sebagian rakyatnya, (sebagian) pelaku ekonominya pada meng-klaim bahwa negeri atau kota mereka-lah yang akan menjadi Islamic Financial Hub-nya !. Bagaimana ini bisa dijelaskan ?. Bukan hanya para eksekutif yang mendengarkan saya yang belajar syariat akhirnya - saya sendiri juga belajar melihat syariat ini dari sudut pandang yang lain.

Sesuai janji Allah : “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS 3 : 139), maka sesungguhnya apa-apa yang dihasilkan oleh ajaran Islam ini pastilah sangat tinggi nilainya.

Ekonomi yang berdasarkan prinsip-prinsip nilai Islam misalnya, ia ibarat intan berlian yang selama ini terkubur dalam-dalam oleh system ribawi, kapitalisme, neoliberalisme dlsb. Bagi orang yang tahu bahwa ini sesungguhnya intan berlian, maka dia berusaha menggosoknya tanpa lelah sehingga bebas dari segala macam debu yang menutupinya, menggosoknya terus sampai  mengkilap menampakkan keindahan aslinya. Setelah intan berlian tersebut benar-benar bebas dari debu-debu yang menutupinya, maka siapapun yang melihatnya – baik dia muslim maupun non muslim – semua bisa menikmati keindahannya, barangkali inilah salah satu tafsir ...Rahmatan Lil – ‘Alamin itu....!.

Sejak saat itulalah saya berpikir untuk terus menggosok intan berlian – intan berlian berikutnya yang ada di sekitar kita yang masih begitu banyak terkubur oleh debu riba, materialisme,  kapitalisme dan konco-konconya. Maka selain Dinar ada Project Gedebog Pisang,  Kambing PutihBazaar Madinah dlsb. Tetapi kemampuan saya terbatas, banyak sekali intan berlian- intan berlian lainnya yang perlu digosok, dan inilah kesempatan Anda untuk melakukannya juga.

Sulitkah ini ?. ya nggak usah ambil yang sulit seperti program asuransi kesehatan yang memerlukan teknik aktuaria yang sangat njlimet dalam contoh tersebut di atas, ambil yang Anda bisa di lingkungan Anda dan yang sesuai dengan bidang yang Anda kuasai. Untuk konkritnya, saya beri contoh elaborasinya dari kasus pedagang imaginer penjual beras pak Abdullah yang saya perkenalkan ke Anda melalui tulisan saya tanggal 2 maret lalu dengan judul “Model Kemakmuran Para Pedagang...”.

Setelah Pak Abdullah membaca tulisan saya berikutnya tanggal 04 Maret 2011 dengan judul “10 Hal Yang InsyaAllah Mendatangkan Keberkahan Dalam Perdagangan...”, pak Abdullah menjadi tahu bahwa salah satu penyebab yang bisa menghilangkan keberkahan jual belinya adalah bila dia tidak ungkapkan cacat barang dagangannya kepada para pembeli.

Sedangkan dalam dunia perdagangan beras yang dijalaninya sehari-hari, amat sangat sulit bisa mengetahui secara akurat beras apa yang sesungguhnya dia jual. Beras dengan merek yang sama –pun ketika dimasak hasilnya bisa lain. Beras begitu mudah di-oplos oleh pedagang perantara, sehingga merek yang tercetak di karung begitu mudah dipalsukan dan tidak bisa menjadi jaminan atas kwalitas beras yang ada di dalam karung tersebut.

Menjadi lebih sulit lagi karena para pembeli membeli beras tersebut masih dalam kondisi mentah – dengan utmost good faith (prasangka yang sangat  baik) - bahwa setelah dimasak nanti akan seperti yang diharapkan rasanya, bagaimana kalau ternyata setelah matang rasanya tidak seperti yang diharapkannya ?. Siapa yang salah ?.

Pertanyaan-pertanyaan ini menghantui pak Abdullah karena kekhawatirannya akan kehilangan keberkahan dalam jual belinya.  Maka pak Abdulullah menelusuri asal-usul beras yang dijualnya, mendokumentasikannya dengan rapi, kemudian secara maksimal menginformasikan seluk beluk beras yang dijualnya tersebut kepada seluruh pembelinya.

Lebih dari itu agar calon pembeli memperoleh informasi yang sangat akurat tentang beras yang akan dibelinya, pak Abdullah memasak satu piring dari setiap jenis beras yang dijualnya setiap hari – kemudian menaruh sepiring beras yang telah menjadi nasi tersebut diatas beras yang dijajakannya – sebagai contoh. Dengan demikian calon pembeli bisa mengetahui, ini mentahnya , kalau dimasak dengan benar , ini pula matengnya ketika beras menjadi nasi.

Karena akurasi informasi yang pak Abdullah sajikan tersebut-lah maka dia menjadi pedagang beras yang insyaAllah tidak akan kekurangan pembeli baik muslim maupun non muslim. Para pembelinya kini dapat melihat beras ‘intan berlian’ yang telah digosok secara maksimal oleh pak Abdullah, bukan karena sekedar ingin laris dagangannya  – tetapi lebih dari itu Pak Abdullah ingin agar jual beli yang dilakukannya mendatangkan berkah !.

Dengan contoh elaborasi bagaimana seorang pak Abdullah pedagang beras bisa menggosok ‘intan berlian’-nya ini, maka Anda-pun insyaAllah punya gambaran yang akurat tentang bagaimana menggosok ‘intan berlian’ yang ada di sekitar Anda. Setelah Anda melakukannya dengan sungguh-sungguh dan dengan ikhtiar yang maksimal, maka kilauan ‘intan berlian’ tersebut bukan hanya Anda yang bisa menikmatinya – tetapi masyarakat lain di sekitar Anda-pun bisa ikut menikmatinya. Bisa bukan ?. InsyaAllah. (Muhaimin Iqbal, Gerai Dinar, 7 Maret 2011)

Model Kemakmuran Para Pedagang...

Saya senang sekali melihat kesuksesan beberapa tukang sayur di lingkungan perumahan saya. Karena volume perdagangan mereka yang terus meningkat, kini mereka tidak lagi mendorong gerobag sayur – mereka pada menggunakan mobil bak terbuka yang praktis - selain menjadi alat transportasi juga menjadi tempat menjajakan barang dagangannya. Bahkan diantara mereka ada yang mulai punya sejumlah tempat mangkal sekaligus. Tadinya saya ingin membuat financial model untuk mempelajari kesuksesan mereka ini, namun karena banyaknya variable barang dagangan mereka – modelnya menjadi terlalu rumit.

Sebagai gantinya untuk memahami bagaimana para pedagang ini menjadi makmur, saya gunakan pedagang imaginer dengan satu barang dagangan saja yaitu pedagang beras. Untuk mudahnya anggap saja pedagang beras ini adalah Pak Abdullah yang memulai berdagang lima tahun lalu (awal 2006). Berikut adalah informasi dan asumsi perdagangan beras yang dilakukan oleh Pak Abdullah – yang saya ambilkan dari data yang sangat mendekati realita pasar :

·      Pak Abdullah mulai berdagang beras dengan modal setara 20 ton beras atau Rp 100 juta awal 2006.
·      Dia beroperasi melayani target pasar yang terdiri dari beberapa perumahan dalam satu kelurahan (pedagang tingkat kelurahan).
·      Harga beras berfluktuasi mengikuti tingkat inflasi BPS ( ini angka konservatif, realitanya sering lebih tinggi).
·      Pada awal Pak Abdullah berdagang tahun 2006 – beras dagangannya di kisaran harga jual Rp 5,000/kg dan selanjutnya mengikuti angka inflasi BPS tersebut (asumsi).
·      Dari lima tahun pengalaman jualan beras, penjualan pak Abdullah tertinggi dalam satu bulan pernah mencapai 40 ton (ketika banyak order dari perusahaan catering !) dan terendahnya adalah 10 ton.
·      Tergantung musimnya, margin kotor (gross margin) pak Abdullah bervariasi dalam kisaran angka 3 % hingga 8% dari nilai penjualan.

Dari enam informasi dasar tersebut, cukup bagi saya untuk mengembangkan financial modelpedagang beras ini – sehingga kita dapat melihat dengan jelas bagaimana mereka bisa menggapai kemakmurannya. Untuk yang terakhir ini saya tambahkan informasi mengenai perkembangan harga Dinar, karena kita akan gunakan tingkat kemakmuran yang hakiki sebagai standar – yaitu nishab zakat 20 Dinar.

Output dari model ini bisa dilihat dari tiga tabel dibawah. Dua faktor utama yang sangat berperan dalam memberikan kemakmuran pada perdagangan pak Abdullah adalah margin perdagangan dan turn-over-nya. Maka sensitivity analysis untuk model ini menjadikan margin dan turn-over sebagai baris dan kolomnya out-put model. Baris margin dimulai dari 3 % s/d 8% yaitu tingkat margin kotor yang bisa diperoleh Pak Abdullah; sedangkan kolom turn-over dimulai 6 kali ( bila pak Abdullah hanya berhasil menjual 10 ton dalam sebulan – artinya modal dia hanya berputar 6 kali setahun) s/d 24 kali ( yaitu bila pak Abdullah bisa menjual 40 ton sebulan – modal dia berputar 24 kali setahun).

MIRR Pedagang
MIRR Pedagang Beras

Tabel pertama menyajikan tingkat hasil rata-rata dari model investasi pak Abdullah yang 20 ton beras tahun akhir 2005/awal 2006 yang setara dengan modal dalam Rupiah sebesar  Rp 100 juta modal. Dari hasil yang terwakili oleh angka MIRR (Modified Internal Rate of Return) tersebut, kita bisa melihat bagaimana Pak Abdullah bisa memperoleh hasil diatas 7 kali (42% keatas) dari hasil rata-rata para penabung ( tabungan, asuransi, dana pensiun dan sejenisnya). Padahal untuk ini pak Abdullah hanya perlu melakukan penjualan 10 ton sebulan dengan gross margin 6% atau 20 ton sebulan gross margin 3% per bulan !. Bila Pak Abdullah berhasil melakukan penjualan atau memperoleh gross margin yang lebih baik dari angka-angka tersebut, hasil pak Abdullah akan naik lagi secara berlipat.

Payback
Payback Pedagang Beras Dengan Modal 20 Ton...

Tabel kedua menyajikan kapan kira-kira modal Pak Abdullah balik. Bila dia berhasil menjual 20 ton sebulan dengan tingkat hasil rata-rata 4 %, maka modal balik dalam waktu kurang dari  2 tahun. Pengembalian modal akan bisa lebih cepat bila dia menjual lebih banyak atau mendapatkan margin yang lebih tinggi.

Income
Minimum Income Scenario (Dalam Dinar)

Tabel ketiga ini yang menujukkan kemakmuran yang sesungguhnya dari pak Abdullah. Bila dia bisa berjualan 20 ton sebulan dengan gross margin 4% saja, dia sudah menjadi orang kaya dengan standard Islam yaitu penghasilan diatas 20 Dinar setahun. Pada tingkat ini penghasilan Pak Abdullah berada di kisaran 5 kali dari penghasilan rata-rata 80% penduduk Indonesia !.

Bila pak Abdullah bisa berjualan 32 ton sebulan dengan tingkat hasil bersih  yang sama 4 %, maka pak Abdullah sudah akan bisa masuk kelompok 20% orang terkaya di Indonesia yang berpenghasilan diatas 61 Dinar per tahun atau lebih dari 3 kali nishab zakat.

Dari model inilah bisa dipahami mengapa pedagang-pedagang di sekitar Anda rata-rata hidup berkecukupan – meskipun penampilannya fisiknya bisa jadi tidak sekeren orang-orang kantoran.

Mudah-kah untuk menjadi pedagang seperti Pak Abdullah ?, tentu tidak ada yang mudah !. Tetapi menjadi pedagang seperti pak Abdullah yang berusaha meningkatkan penjualannya dari 20 ton ke 32 ton perbulan misalnya ( yang membuat penghasilan bersihnya naik 3 kali lipat), tidak juga lebih sulit (dan biasanya juga tidak lebih lama) dari karyawan yang berusaha meningkatkan penghasilannya 3 kali lipat !. Jujur saja sepanjang 21 tahun karir saya sebagai karyawan dan direksi, hanya sekali saya mengalami kenaikan penghasilan yang lebih dari 3 kali lipat yaitu ketika tahun 1998 di puncak krisis negeri ini – team kerja kami mencatatkan kinerja yang luar biasa karena  berhasil mengatasi segala persoalan yang ada waktu itu dan menjadikannya peluang.

Dengan memberikan gambaran model kemakmuran para pedagang ini saya ingin mendorong agar sebanyak mungkin umat ini menguasai perdagangan, bukan berarti sektor pekerjaan lain seperti produksi, administrasi dlsb. tidak penting – tetapi tidak dikuasainya sektor perdagangan inilah yang membuat mayoritas rakyat negeri ini menjadi objek pasar bukan sebagai pelaku pasar. Kelemahan di pasar ini pula yang membuat penghasilan petani (yang mewakili mayoritas penduduk negeri ini ) tidak kunjung naik meskipun harga produk-produk mereka di tingkat konsumen terus melambung.

Sama dengan financial model untuk korporasi yang saya perkenalkan melalui tulisan saya tanggal 01 Maret 2011 kemarin, financial model  untuk para pedagang atau UKM ini juga saya bisa share kepada para peminat yang serius. Hanya bentuk sharing-nya saya tidak mau memberikan spread sheet-nya saja, karena bila ini yang saya lalukan – waktu saya yang habis untuk menjawabi email-email yang menanyakan ini-itu tentang spread sheet ini ( mulai dari masalah teknik yang terkait aplikasi excel 2007,  formulasi model, asumsi sampai pada aspek-aspek financial-nya).  Sharing saya akan dalam bentuk kelas gratis di Cibubur dan akan perlu waktu minimal satu hari penuh untuk bisa mengabsorb ilmunya secara memadai (saya sendiri karena mulai lelet perlu dua hari untuk belajar masalah ini dari ahlinya di negeri jiran !).

Dengan adanya Bazaar Madinah pertama yang insyaAllah bisa beroperasi dalam satu atau dua bulan kedepan dan expertise di bidang financial modeling, forecasting and analysis yang akan kami share ini, saya berharap semoga bisa ikut menumbuh kembangkan lahirnya para pedagang terdidik yang makmur di negeri ini. InsyaAllah. (Muhaimin Iqbal, Gerai Dinar, 2 Maret 2011)

Sabtu, 26 Februari 2011

Ketika Usaha Harus Bermula Dari 3 F...

Bayangkan situasi sekian puluh tahun lalu ketika orang di Indonesia masih minum air dari air sumur yang direbus dan masih merebus air panas setiap kali mau minum teh;  saat itu ada orang yang punya ide nyleneh (pada jamannya) untuk memasukkan air atau air teh dalam botol dan gelas kemudian menjualnya dengan harga berlipat !. Siapa kira-kira yang mau mendukungnya saat itu ?.  Dukungan yang sangat mungkin adalah dari keluarga sendiri, dari teman-temannya dan dari ‘orang-orang bodoh’ di sekitarnya .

Sekumpulan keluarga, teman-teman dan ‘orang-orang bodoh’ yang dalam bahasa Inggris-nya adalah Families, Friends and Fools (3 F) inilah sekumpulan orang yang sangat berperan dalam memberikan dukungan ketika kita menggagas ide-ide yang tidak biasa, ide-ide yang  nyeleneh, ide-ide yang mendahului jamannya atau ide-ide yang oleh kebanyakan orang awalnya dianggap sebagai ide-ide yang bodoh.

Dukungan ini tidak terbatas pada dukungan moril, semangat, mitra berdiskusi, temanbrainstorming dan lain sebagainya yang bersifat non-materiil; tetapi dalam kenyatannya kita juga butuh dukungan yang bersifat meteriil seperti  modal usaha, tenaga, sarana prasarana dlsb.

Peran 3F ini menjadi semakin penting bagi sukses tidaknya di awal sebuah ide besar usaha diimplementasikan. Ditahun-tahun awal usaha akan membutuhkan dana terus menerus, untuk riset, tes produk, tes produksi, tes pasar dlsb. saat itu belum ada income tetapi biaya keluar terus menerus. Saat itu juga belum ada pemodal diluar 3 F yang tertarik untuk mendanai usaha Anda.

Perjalanan menuju death valley ini akan membuat banyak pemula frustasi, lagi-lagi 3 F akan berperan. Mereka ini adalah orang-orang yang bersedia keluar dana untuk usaha Anda meskipun belum jelas hasilnya, bersedia kerja keras siang malam tanpa (belum) mengharapkan bayaran. Mereka menyemangati Anda ketika Anda down dan mengerem langkah Anda ketika Anda mau nyungsep ke jurang.

Maka kepandaian Anda mengelola sumber daya yang tidak ternilai harganya yang bernama 3 F ini – menjadi amat sangat menentukan apakah usaha Anda nantinya bisa lolos melewati lembah kematian – death valley - atau tidak.

Setelah death valley atau kuburannya para pemula usaha berhasil Anda lewati, usaha Anda akan mulai menampakkan daya tariknya. Saat itu para pemodal dari kalangan venture capitalbisa jadi sudah akan mulai melirik usaha Anda; mereka ini tentu menyukai usaha yang sudah jelas masa depannya tetapi belum banyak yang melihat – jadi potential growth-nya bisa sangat tinggi.

Saat usaha berkembang lebih maju lagi, jenis investor lainnya seperti private quity investor pun akan bermuncuan karena saat itu usaha Anda sudah menjadi usaha yang sangat menguntungkan dan memiliki potensi pertumbuhan yang masih sangat besar.

Bila terus dikelola dengan baik, perusahaan Anda akan mencatat sejarah dengan pertumbuhan berikutnya melalui proses merger & acquisition atau bahkan juga go public. Kurva-J di bawah menggambarkan perjalanan umum suatu usaha, bermula dari 3 F sampai menjadi perusahaan publik.

Kita kini tahu misalnya, ide ‘nyleneh’ sekian puluh tahun lalu yang saya ungkapkan di awal tulisan ini – saat ini telah menjadi raksasa-raksasa perusahaan publik. Orang-orang yang berpikir mendahului jamannya yang dulunya bisa jadi  dianggap sebagai ‘orang-orang bodoh’ – kini terbukti merekalah orang-orang yang paling cerdas di bidang industrinya masing-masing; merekalah captain of industry saat ini.
Business Road Map From FFF to Public
Business Road Map From FFF to Public
 

Lantas siapa yang akan mendampingi Anda dalam stage 3 F agar bisa melalui death valleysecara aman ?.  Konsultan bisnis dlsb. yang berorientasi komersial tentu belum tertarik bisnis Anda ketika Anda masih berada di stage 3 F ; sementara mungkin juga tidak mudah bagi Anda untuk menemukan ‘orang-orang bodoh’ di sekitar Anda, saat itulah lembaga non-profit seperti yang kami kelola dalam bentuk Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin (PWDM) bisa ikut membantu Anda dari awal.

Banyak ‘ide-ide bodoh’ yang kini sudah mulai kami implementasikan. Memang usaha-usaha yang kami rintis bersama peserta PWDM sejak Angkatan I tersebut  - yang baru berusia satu tahun saat ini umumnya masih berada di stage 3 F, namun kami juga sudah antisipasi bahwa segera setelah death valley ini berhasil kami lalui – berbagai bentuk aksi korporasi dalam rangka membesarkan usaha baik melalui venture capital, private placement, merger and acquisition dan bahkan go public juga sudah mulai kami petakan.

Bahkan kini kami bersinergi dengan Calipha Group Holding untuk bisa saling mengisi. PWDM mendapatkan visi dan jaringan untuk membuat road map jauh kedepan bagi setiap usaha yang dirintisnya, sementara Calipha yang memiliki spesialisasi dibidang venture capital , private equity placement serta merger & acquisition dapat menanamkan benih-benih dagangan masa depan dalam business-nya.

Jadi jangan kawatir dengan ide-ide besar Anda yang oleh kebanyakan orang masih dianggap sebagai ‘ide yang bodoh’ sekarang,  siapa tahu dalam beberapa dekade kedepan – giliran Andalah untuk menjadi captain of  industry itu. InsyaAllah. (Muhaimin Iqbal, Gerai Dinar, 30 Oktober 2010)

Minggu, 20 Februari 2011

Belajar Berdagang : Job Security Untuk Kita Semua...

Ketika baru tamat sekolah, rata-rata kita dan orang tua kita sangat berbahagia bila kita langsung dapat bekerja di perusahaan atau institusi ternama. (Calon) Mertua kita-pun merelakan anaknya kita nikahi – karena rata-rata (calon) mertua merasa nyaman bila sang (calon) menantu sudah bekerja. Sebaliknya orang tua maupun (calon ) mertua rata-rata tidak merasa nyaman bila kita tidak berusaha mencari  ‘kerja’ melainkan belajar usaha sendiri misalnya. Fenomena ini terjadi karena ilusi kemapanan yang yang tercipta oleh pemahaman yang tidak sepenuhnya benar tentang kemanan pekerjaan atau job security.

Pemahaman umum bahwa perusahaan besar atau institusi ternama lebih mampu memberikan job security – tidak sepenuhnya atau selamanya benar. Tahukah Anda bahwa bila karir Anda menanjak dengan cepat, ini juga bisa berakibat Anda kehilangan pekerjaan dengan cepat ?. Kok bisa ?.

Ambil contohnya adalah bila Anda seorang karyawan, kemungkinan besarnya Anda ingin secepatnya naik pangkat dan menjadi direksi. Justru ketika Anda mencapai cita-cita Anda menjadi direksi inilah Anda kehilangan job security yang diidamkan oleh orang tua dan mertua tersebut diatas. Rata-rata direksi bekerja dengan kontrak 3 s/d 5 tahun per periode-nya, mereka bisa menjabat rata-rata sampai dua periode. Maka ketika seorang karyawan mencapai posisi direksi, dia harus siap kehilangan pekerjaannya dalam rentang waktu 6 s/d 10 tahun lagi paling lama.

Di banyak BUMN atau institusii yang berbau politis, kadang waktu untuk pensiun dari direksi tersebut bisa jauh lebih cepat lagi. Di hari-hari pertama saya diangkat jadi direksi di lingkungan anak perusahaan BUMN terbesar negeri ini, saya bersama seluruh jajaran direksi lain sudah dipanggil DPR. DPR di awal reformasi waktu itu nampaknya bisa setiap saat memanggil direksi BUMN dan anak-anak perusahaannya kapan saja untuk urusan apa saja.

Walhasil di hari-hari pertama menjabat-pun kami sudah diancam akan dipecat oleh fraksi yang waktu itu nampaknya tidak menyetujui pengangkatan kami. Tekanan polistis semacam ini terus berlanjut, sehingga selama enam tahun saya menjabat di perusahaan tersebut ; rekan-rekan direksi mitra kerja saya yang lain terus diganti , ada yang dua kali diganti, tiga kali diganti bahkan ada yang empat kali diganti !. Ini menggambarkan betapa tidak amannya bekerja sebagai pimpinan di perusahaan yang mapan sekalipun.

Kalau begitu apakah berarti enakan jadi karyawan biasa saja sampai pensiun ?. Tidak juga demikian, meskipun realitanya sebagian terbesar karyawan akan tetap menjadi karyawan sampai pensiun – karyawan-karyawan cemerlang di setiap perusahaan atau institusi pasti bercita-cita ingin mencapai puncak karir di perusahaan atau institusinya. Disinilah letak paradox-nya, justru ketika dia benar-benar mencapai karir puncaknya – bisa jadi saat itu pula dia kehilangan job security-nya.

Bagi yang tetap menjadi karyawan sampai pensiun – juga jangan berharap terlalu banyak pada dana pensiun Anda. Sebagian terbesar pensiunan yang hanya mengandalkan dana pensiunnya menderita secara financial karena jerih payah dia bekerja sekian puluh tahun dan ditabung di dana pensiun terus tergerus inflasi – seperti membawa air di ember bocor.

Lantas bagaimana kita bisa menciptakan job security yang sesungguhnya, yang bisa kita nikmati sampai usia pensiun sekalipun ?. Job security ini justru ada di bidang usaha yang selama ini dipersepsikan paling tidak aman yaitu pengusaha atau lebih spesifiknya pedagang. Kok bisa ?.

Bila Anda bisa berdagang, Anda tidak perlu kawatir dengan pekerjaan Anda. Di jaman Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, PD-nya para pedagang ini terwakili oleh kisah Abdur Rahman bin ‘Auf dibawah ini :

Telah bercerita kepada kami [Isma'il bin 'Abdullah] berkata, telah bercerita kepadaku [Ibrahim bin Sa'ad] dari [bapaknya] dari [kakeknya] berkata; Ketika mereka (Kaum Muhajirin) telah tiba di Madinah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mempersaudarakan 'Abdur Rahman bin 'Auf dengan Sa'ad bin ar-Rabi'. Sa'ad berkata kepada 'Abdur Rahman; "Aku adalah orang Anshar yang paling banyak hartanya, maka hartaku aku akan bagi dua dan aku mempunyai dua istri, maka lihatlah mana diantara keduanya yang menarik hatimu dan sebut kepadaku nanti aku akan ceraikan dan apabila telah selesai masa iddahnya silakan kamu menikahinya". 'Abdur Rahman berkata; "Semoga Alah memberkahimu pada keluarga dan hartamu. Dimana letak pasar-pasar kalian?". Maka mereka menunjukkan pasar Bani Qainuqa'. Dia tidak kembali dari pasar melainkan dengan membawa keju dan minyak samin yang banyak. Lalu dia terus berdagang hingga pada suatu hari dia datang dengan mengenakan pakaian dan wewangian yang bagus. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bertanya kepadanya: "Bagaimana keadaanmu?". 'Abdur Rahman menjawab; "Aku sudah menikah". Beliau bertanya lagi: "Berapa jumlah mahar yang kamu berikan padanya?". 'Abdur Rahman menjawab; "Sebiji emas atau seberat biji emas". Dalam hal ini Ibrahim ragu jumlahnya yang pasti. (HR. Bukhari).

Abdur Rahman bin ‘Auf tidak tertarik dengan harta halal yang ditawarkan saudaranya, karena dia PD bisa mencarinya sendiri dengan cukup melalui perdagangan. Abdur Rahman bin ‘Auf kemudian tercatat dalam sejarah Islam menjadi orang yang amat sangat kaya di negeri yang baru  Madinah sampai akhir hayatnya – meskipun ketika dia berhijrah, dia tidak membawa hartanya yang dia tinggal di Mekah.

Bukan hanya kaya raya, dia juga termasuk salah satu Sahabat yang dijamin masuk surga. Artinya perdagangan yang dia lakukan sampai membuatnya kaya, tidak melanggar sedikit-pun ketentuan syariat agama ini. Sebab bila ada sedikit saja yang dia langgar, kemungkinannya dia tidak bisa dijamin masuk surga.

Belajar berdagang seperti yang dilakukan oleh Abdur Rahman bin ‘Auf tersebutlah yang perlu kita lakukan untuk memperoleh job security yang sesungguhnya. Yang perlu kita ketahui hanyalah dimana ada pasar, kemudian melihat apa-apa yang dibutuhkan orang di pasar. Bila kita bisa selalu memenuhi kebutuhan orang dipasar tersebut, itulah bisnis dan job security kita !.

Ingin belajar menerapkannya ?. Kita bisa belajar bersama dalam hal ini. Dalam waktu satu atau dua bulan dari sekarang, Bazaar Madinah yang saat ini sedang kami bangun model-nya di Depok insyaAllah akan siap beroperasi. Untuk yang pertama ini targetnya memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar dalam 4 kategori kebutuhan yaitu Sembako, Toiletries (sabun, pasta gigi dlsb), Komoditi Segar (sayur, buah, daging dlsb) dan Makanan Jadi.

Karena targetnya untuk melahirkan generasi seperti  Abdur Rahman bin ‘Auf – Abdur Rahman bin ‘Auf  jaman ini, maka kesempatan ini kami buka seluas-luasnya bagi yang serius ingin berdagang sesuai syariah. Bila ternyata yang berminat lebih dari kapasitas yang kami sediakan, maka akan dibuat giliran yang adil seperti yang sudah saya jelaskan di tulisan tentang Bazaar Madinah.

Memang untuk yang pertama ini – melihat jenis barang dan pasar yang hendak dipenuhi kebutuhannya adalah spesifik di Depok, idealnya peluang pertama ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Depok dan sekitarnya. Tetapi bukan berarti masyarakat di daerah lain tidak bisa memanfatkan konsep ini, setelah model yang satu ini jalan – konsep yang sama insyaAllah bisa diterapkan dimanapun di Indonesia dengan cepat.

Bahkan untuk bangunan pasarnya sendiri, kini kita buat di pabrik composites kami sehingga mudah diinstall dengan cepat dimanapun. Sifat bangunan yang knock down seperti dalam ilustrasi dibawah, akan membuatnya feasible untuk dipasang di tanah sewa sekalipun.
 
BazaarComposites Bazaar Construction

Selamat datang generasi Abdur Rahman bin ‘Auf, inilah job security untuk kita-kita !. InsyaAllah. (Muhaimin Iqbal, Gerai Dinar, 18 Februari 2011)

Trend Harga Emas (emas24.com)



Harga Emas Dunia Dalam 24 Jam

24 Hours Gold Price

24 Hours Gold Price