Dinar dan Dirham



Dinar dan Dirham
Dinar adalah mata uang berupa koin yang terbuat dari emas dengan kadar 22 karat (91,7 %) dan berat 4,25 gram. Dirham adalah mata uang yang terbuat dari Perak Murni dengan berat 2,975 gram. Dinar dan Dirham adalah mata uang yang dipakai pada zaman Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam . Pada era kekhalifahan Umar bin Khatab, ditetapkan bahwa Dinar dan Dirham memiliki standart seperti tersebut diatas. Di Indonesia, Dinar dan Dirham diproduksi oleh Logam Mulia, unit bisnis dari PT Aneka Tambang, Tbk, dan disertai Sertifikat setiap kepingnya. Keaslian dan keakuratan berat dan kadarnya telah diuji dan disertifikasi oleh KAN (Komite Akreditasi Nasional) dan oleh LBMA (London Bullion Market Association). Dinar dan Dirham saat ini belum diakui secara resmi oleh Pemerintah sebagai alat tukar, sehingga pengenalan kembali Dinar dan Dirham di kalangan umat, digunakan pendekatan sebagai bentuk investasi/tabungan dan pelindung aset/harta umat. Dinar sebagai mata uang yang berasal dari Dunia Islam, sepanjang sejarah telah terbukti memiliki daya beli yang stabil lebih dari 1400 tahun. Dalam kurun 40 tahun terakhir, Rupiah mengalami penurunan daya beli akibat INFLASI rata-rata 8 % per tahun, sedangkan US Dollar mengalami penurunan rata-rata 5 % per tahun. Sebaliknya dalam kurun waktu yang sama, nilai Dinar mengalami kenaikan nilai rata-rata 28,73 % per tahun terhadap Rupiah dan kenaikan rata-rata 10,12 % per tahun terhadap US Dollar. Bandingkan dengan bagi hasil Deposito di Bank yang berkisar 6 % - 8 %. Dinar dapat digunakan sebagai investasi/tabungan jangka menengah/panjang, sangat cocok untuk rencana jangka panjang seperti menunaikan ibadah haji, biaya pernikahan anak, biaya sekolah anak, biaya membeli/perbaikan rumah, warisan (Islam melarang kita meninggalkan keturunan yang lemah) dan lain sebagainya. Beban biaya dan kebutuhan hidup yang semakin berat memang tidak terasa ... dengan asumsi inflasi 7,5 % per tahun saja, biaya hidup kita dalam Rupiah akan meningkat lebih dari 100 % dalam 10 tahun mendatang. Kekuatan khasanah keadilan mata uang Dinar dapat dimanfaatkan untuk melindungi aset/harta kita dari kehancuran/penurunan nilai uang seperti yang pernah terjadi di Indonesia, yaitu Sanering Rupiah tahun 1965 dan Krisis Moneter tahun 1997-1998.


Grafik Harga Dinar dalam IDR dan Dollar
Gerai narDinar Bangkalan
Dinar Emas memiliki 3 fungsi : Sebagai alat tukar, Timbangan yang adil dan Perlindungan nilai. Dinar emas untuk membangun ketahanan ekonomi dan memakmurkan umat tetapi tidak untuk ditimbun!.
Jual Beli Dinar Emas dan Dirham Perak Bersertifikat produksi PT Aneka Tambang (Antam) persero dan PT Peruri (Persero)
Jl. Nangka, Kamal Madura 69162
Kontak:
Amy : 081554481448
Email : gerainardinarbkl@gmail.com

Dapatkan discount belanja 10 % untuk pembelian produk Thibbunnabawy dan herba di Toko herba online BaherbA (www.baherba.blogspot.com), bagi setiap pembelian dinar di Gerai narDinar.

Trend Harga Dinar Dalam 3 Bulan

Senin, 31 Oktober 2011

sekali lagi, emas perhiasan itu ‘just fashion’


Ladies, meski beli emas perhiasan bukan purely investasi, pasti masih menyukai emas perhiasan, kan? Selera dasar perempuan, ingin sesuatu yang fashionable, sesuatu yang menarik dan ‘berkilau’ untuk dikenakan.
Seringkali memang situasi ‘memaksa’, terlalu banyak godaan di lapangan, sehingga saya akan berikan beberapa tips membeli perhiasan. Be a smart consumer. Pelajari lalu aplikasikan, mudah-mudahan membantu. Setidaknya membuat kita sebagai konsumen punya pengetahuan yang cukup agar tak mudah terkelabui saat transaksi.
Hal utama dan pertama yang perlu dipahami adalah perhiasan tidak bisa disebut investasi karena perlakuan terhadap jual-belinya tidak sestandar dinar & emas batangan. Karena ada unsure selera dan seni dalam pembuatannya,perhiasan lebih cocok disebut produk fashion, bukan investasi. Salah satu tak standarnya perlakuan jual-beli perhiasan adalah beda toko akan menyebabkan berbeda harga. Jangankan itu, berat emas yang sama tapi berbeda model bisa menyebabkan beda harga
Selisih jual-beli emas perhiasan bisa mencapai 10%, atau kadang dalam bentuk nominal berupa pengenaan ‘ongkos bikin’ Rp 60 ribu per gram. Sedangkan selisih jual-beli Dinar hanya 2-4% & emas batangan 6-10%.
Ketika emas dalam bentuk lain sudah menghasilkan return 20-25% per tahun, perhiasan baru mencapai return setengahnya, bahkan kadang bisa minus (rugi). Ada komponen ‘ongkos pembuatan’ atau biaya lebur yang dibebankan kepada pembeli ketika membeli emas, tapi tak diperhitungkan ketika konsumen menjualnya kembali, membuat selisih jual-beli emas perhiasan demikian besar. Emas perhiasan dibeli lebih mahal untuk berat yang sama dengan emas batangan karena ada ongkos pembuatan, dan dibeli lebih murah karena ongkos bikin tak dihitung. Akan tetapi, asalkan akan disimpan minimal 2 tahun, emas perhiasan masih lebih menguntungkan daripada tabungan & investasi medium risk lainnya, terlebih tabungan dan deposito.
Disisi lain, jika mau jujur, seberapa lama sih pemilik perhiasan bisa menahan diri untuk tidak ganti membeli atau tukar-tambah setiap model baru muncul? Mungkin setahun sekali. So, kembali, karena impaknya jelas rugi, maka mari memposisikan emas perhiasan sesuai peruntukannya : ia adalah fashion semata. Lupakan loss, return dan lain sebagainya.
OK, bagi yang sudah bulat bertekad, dan sudah pahami konsekuensinya, sekarang kita masuk ke langkah dan tips ketika membeli emas perhiasan :
1.     Acuan harga. Pertama, sebelum membeli, wajib miliki info harga emas. Ini juga berlaku ketika jual. Jangan berangkat ke toko emas tanpa informasi apapun mengenai harga. Kita perlu peluru untuk nego saat transaksi. Yang perlu dicatat, harga pasar emas tak real time. Ini fakta. Harga naik di pasar internasional tak berarti harga lokal juga naik, apa lagi harga emas perhiasan. Penjual pasang harga di titik dia dapat untung terhadap harga emas + ongkos pembuatannya saat produksi, dan bukan semata mengikut harga emas dunia. Artinya, bisa jadi harga internasional turun, harga perhiasan tinggi. Sebaliknya, ketika harga internasional naik, perhiasan masih lebih rendah. Dari mana lihat acuan harga emas hari ini? Salah satunya dari www.logammulia.com. Terupdate jam 10-11 tiap harinya. Setelah dapatkan info ini, silakan pergi ke toko untuk melakukan transaksi.

2.     Koridor harga. Harga toko bisa more / less 5% terhadap harga emas internasional. Kenapa 5%? Karena seekstrim apapun, dalam situasi ekonomi dunia normal, harga emas harian tak pernah turun/naik lebih dari 4% per hari. Rata-rata harga naik 2% per bulan. Dengan asumsi emas perhiasan yang dibeli hari ini adalah produksi 2 bulan lalu, maka bisa jadi ketika saat ini naik, harga toko less 4-5%. Demikian juga ketika harga emas dunia turun, bisa jadi harga di toko emas masih cukup rendah. Faktanya, memang lebih mudah bagi toko emas menaikkan (ikutan trend harga) dibanding harus menurunkan (ketika harga emas dunia turun). Oleh sebab itu, acuan +/- 5% bisa dijadikan koridor harga. Tak perlu kaget ketika jumpa harga yang lebih rendah atau lebih tinggi dibandingkan harga emas internasional, asalah dengan batasan wajar 5% tersebut.
3.     Hitungan harga. Sekarang mari menghitung harga pantas berdasarkan berat dan kadar emasnya. Ketika ketemu perhiasan yang sesuai selera, tanyakan karat atau persentase kandungannya serta beratnya. Misalkan 22 Karat. Hitung : 22/24 x harga hari itu. Misal harga hari itu Rp 400.000 per gram untuk emas 24 karat, maka harga per gram emas 22 Karat adalah Rp 366.667,  Lalu kalikan berat + ongkos 60 ribu per gram. Misal berat emas perhiasan adalah 10 gram, maka hitungannya adalah (366.667 x 10) + (60.000 x 10) = 3.666.670 + 600.000= 4.266.670. Kemudian plus-minuskan 5%,itulah harga wajar pasar.
Penguasaan kita terhadap informasi dan cara hitung seperti ini membuat toko emas tak main-main. Setidaknya kita punya bekal lakukan negosiasi. Posisi tawar sebagai konsumen naik.
Oya,tentang harga, ada tiga hal lagi yang perlu diperhatikan :
a.     Tiap toko punya kebijakan harga berbeda. Toko yang berlokasi di mall megah wajar pasang harga lebih tinggi dari toko emas perhiasan di pasar tradisional, karena biaya operasi yang dibebankan ke harga emas juga berbeda.
b.    Toko emas ‘branded’ yang memasarkan merek perhiasan terkenal dengan hasil karya seni tinggi juga akan memasarkan perhiasan dengan harga lebih ‘kinclong’, karena dipengaruhi kualitas emas, kualitas pengerjaan dan nama besar brand-nya.
c.     Model juga berpengaruh. Makin baru makin tinggi harganya. Meski kita tak pernah tahu mana yang baru dan lama kan (kecuali emas branded yang mencantukan sertifikat berisi tahun pembuatan)? Apalagi untuk model perhiasan di kelas toko pasar tradisional. Model lama dan model yang lagi ‘hits’ juga sangat dibentuk oleh persepsi.
Terakhir, jika murni untuk berinvestasi, pilih emas batangan atau Dinar. Untuk fashion, silakan pilih perhiasan. Ada beberapa trik toko emas ketika menjual dan membeli emas (perhiasan maupun emas batangan), akan dikupas di tulisan berikutnya agar kita bisa terhindar dari praktek yang merugikan.
(Endy J Kurniawan, 4 Mei 2011)

Sabtu, 29 Oktober 2011

the golden constant (bagian 2 : penguasaan atas emas, satu langkah maju ke kejayaan masa lalu)


Kabar baik bagi kita adalah dari seluruh emas yang telah ditambang di muka bumi yakni sekitar 150.000 – 160.000 ton, 70% – 90% dikuasai swasta, termasuk individu/ perorangan. World Gold Council menyebut angka sekitar 100.000 ton emas dikuasai swasta, pada 2005. Sementara sisanya dikuasai oleh 109 negara sebagai cadangan di bank sentral-nya. Laporan lembaga yang sama pada September 2010 menyebutkan jumlahnya sekitar 27.000 ton.
Sebagaimana tulisan pada bagian pertama pekan lalu, penguasaan mayoritas stok emas dunia oleh non-pemerintahan ini adalah salah satu sebab mengapa kembalinya gold-standard sebagaimana era Bretton Woods diprediksi sulit terwujud. Menurut Martin Wolf, analis ekonomi senior The Financial Times, proses akuisisi emas masyarakat ini akan memakan berbagai macam biaya yang luar biasa dan bisa menimbulkan kekacauan.
Jauh lebih mungkin, jika saatnya tiba, terjadi pertukaran langsung emas-emas simpanan masyarakat untuk transaksi sehari-hari. Jumlah 100.000 ton yang beredar adalah jumlah yang sangat banyak. Seandainya pun tak dalam bentuk koin yang standard, masyarakat cukup menggunakan emas dalam bentuk apapun, disertai timbangan untuk pengukur berat. Praktek ini sebagaimana jaman awal Rasulullah SAW bertransaksi menggunakan emas, alat transaksinya adalah emas dalam berbagai bentuk (koin, lempengan/ tibr) dan telah mencukupi.
Kita tahu, emas adalah bahasa transaksi universal. Kita pernah bahas sebelumnya, salah satu item survival kit pilot tempur Amerika adalah sepotong emas. Kawan saya Ahmad Gozali, ketika sesi workshop investasi emas sering menyampaikan penggalan sebuah film dengan setting di sebuah negara komunis. Prajurit Amerika yang perlu tumpangan tak bisa membayarnya dengan US Dollar karena penduduk setempat tak tertarik mata uang asing itu. Tapi deal terjadi setelah si agen bersedia membayarnya dengan jam tangan terkenal berlapis emas.
Selama 1500 tahun kejayaan Islam menerangi bumi, ekonomi kekhalifahan berada di standar yang sangat tinggi. Bahkan menjelang rapuh dan runtuhnya kekhalifahan Turki Ustmani sekalipun, indeks harga dan kesejahteraan warga negaranya masih lebih baik dari Inggris yang berdiri sejaman.
Kemanapun reformasi moneter ini membawa nanti, kita perlu bersiap diri dari kini. Perhatikan grafik 10 besar penguasa emas dunia pada gambar. Dari 10 negara yang memiliki cadangan emas terbesar, hanya 3 negara yaitu China, Rusia dan Amerika sendiri yang juga merupakan 10 besar negara penghasil emas. Selebihnya adalah negara-negara barat non-produsen emas, yang dengan disiplin dan kesadaran penuh, mereka tahu tapi diam-diam saja, justru menyimpan harta hakiki itu dalam dekapan negaranya, meskipun dalam keseharian mereka terlihat sibuk mengkampanyekan anti-gold standard.
Dari grafik, kita juga bisa menyimpulkan satu hal yakni kecilnya kesadaran negara-negara penghasil emas utama untuk mempertahankan emas yang ditambang dan diolah di negaranya sendiri, sehingga tak cukup menyimpan untuk pertahanan ekonomi negaranya. Mereka memilih untuk menjadi penambang dan eksportir, tapi tak menjadikan emas sebagai cadangan ekonomi negaranya, kecuali sedikit saja.
Negeri ini seharusnya memberi penghargaan kepada masyarakat yang secara individual berupaya menyimpan emas di rumah tangganya masing-masing, yang jika dijumlahkan akan menghasilkan angka simpanan emas yang sangat besar dan mengindikasikan ketahanan ekonomi riil masyarakat Indonesia. Seandainya warga negara yang hidup di atas ambang kemiskinan (artinya secara ekonomi cukup mampu) yaitu 70% dari total penduduk Indonesia memiliki 1 gram emas, maka jumlah emas minimal yang dimiliki rakyat Indonesia berjumlah 168 ton. Angka ini telah 2 kali lipat lebih dibanding cadangan emas yang dimiliki bank sentral.
Seandainya 1 orang menguasai 1 Dinar (emas dengan berat 4.25 gram), maka cadangan emas yang berada di kantung masyarakat Indonesia berjumlah 714 ton. Dijumlahkan dengan cadangan devisa Bank Indonesia yang sekitar 75 ton, maka Indonesia akan berada di posisi ke-8 penyimpan emas mengalahkan Jepang.
Sosialisasi penguasaan emas ke tangan masyarakat ini, bagi saya pribadi, adalah upaya pertahanan sekaligus persiapan menyongsong masa depan. Pertahanan untuk melindungi harta dan asset masyarakat. Persiapan masa depan untuk sebuah reformasi (mungkin juga revolusi, gerakan perubahan radikal) sistem moneter dunia dengan medium emas, juga perak. Seluruh negara dan masyarakat negara lain, secara terbuka maupun diam-diam melakukannya dengan penuh kesadaran. Sebagai negara dengan cadangan emas melimpah, mengapa kita tidak melakukan hal serupa?
Dengan jumlah cadangan emas yang memadai, ekonomi negeri kita punya sandaran hakiki, layak adu tanding dengan dengan negara-negara ekonomi kuat lainnya. Ini jadi modal yang cukup untuk menopang prediksi banyak riset yang menunjukkan Indonesia akan berada dalam posisi 10 besar ekonomi terkuat dunia pada 2020 dan 5 besar pada 2030.
Wallahua’lam
(Endy J Kurniawan, 27 September 2011)

the golden constant (bagian 1 : bretton woods (mungkin) tak kembali)


Berapa banyak uang beredar di muka bumi? Laporan McKinsey Global Institute pada 2008 menyebut angka USD 61.000 Trilyun. Karena dirilis tahun 2008, maka itu berarti tak termasuk rentetan stimulus yang kemudian diakhiri dengan USD 600 Milyar yang sebulan lalu dikeluarkan Amerika melalui The Fed.
Berapa nilai emas yang ada di muka bumi? Sekitar USD 1.300 Trilyun. Saya tak mention dengan rupiah karena sulit menuliskan satuannya. Terlalu panjang angka nolnya.
Dua angka tersebut membawa kita ke masa 1944 – 1971 dimana Gold Standard diberlakukan dengan payung Bretton Woods Agreement. Kala itu dimana 35 Dollar yang dicetak/dikeluarkan bank sentral Amerika haruslah dengan backup 1 troy ounce emas, uang yang beredar adalah kurang lebih sama dengan nilai emas yang ada di bank sentral di seluruh dunia.
Yang terjadi sekarang adalah jumlah uang kertas telah dicetak 46 kali lebih banyak dari yang seharusnya (USD 61.000 Trilyun dibagi nilai emas USD 1.300 Trilyun). Inilah makna FIAT MONEY itu, uang kertas dicetak sangat banyak, suka-suka, tanpa mencerminkan jumlah kekayaan atau asset riil berupa emas yang dimiliki negara-negara yang disimpan bank sentral masing-masing.
Akibatnya adalah keuntungan dinikmati si pencetak reserved currency (USD). Stagnansi ekonomi yang mereka alami, sebagaimana terjadi sekarang dimana produksi dan konsumsi dalam negerinya mandeg, yang kemudian membuat mereka mencetak uang baru, hanya (mungkin) menguntungkan di sisi mereka. Mungkin, karena belum tentu stimulus ini berhasil mengangkat ekonomi dalam negerinya. Yang justru pasti adalah seluruh negara berlomba menurunkan nilai mata uangnya demi bisa bersaing untuk pasar ekspornya. Yang pasti lagi adalah membuka kemungkinan hyperinlasi terjadi di negara-negara berkembang yang tak tahu menahu, bahkan mungkin tak terlibat awalnya dengan pertarungan ekonomi tingkat tinggi tersebut. Yang jadi korbannya adalah kesejahteraan masyarakat di negara berkembang, karena hyperinlasi berarti menurunnya daya beli uang simpanan mereka sebanyak 2 digit persen.
Selain itu, biaya 4 sen Dollar (atau 0.04 Dollar) untuk mencetak setiap lembar USD itu pun bermakna perampokan. Stempel berapapun bisa dicantumkan di lembaran uang kertas, lalu dibuat untuk membeli lebih banyak asset di negara-negara miskin atau berkembang. Untuk membeli sebuah perusahaan teknologi di Indonesia dengan nilai Rp 5 Trilyun (USD 561 juta), hanya perlu mencetak uang pecahan USD sebanyak 5,61 juta lembar dengan biaya 4 sen x 5,61 juta = USD 22 juta sen, atau sama dengan USD 220.000. Disini praktek SEIGNORAGE bekerja. Untuk membeli perusahaan senilai Rp 5 Trilyun, produsen USD hanya perlu Rp 1,9 Milyar biaya cetak uang.
Data tentang nilai uang riil (yaitu emas) vs nilai uang (kertas) yang ada sekarang itulah yang membuat banyak ekonom meragukan Bretton Woods jilid II yang diwacanakan Robert Zoellick, bos World Bank, mustahil terlaksana. Karena jumlah uang beredar sudah sedemikian besar melebihi yang seharusnya, implementasi Gold Standard Currency seperti pernah dipraktekkan dulu akan membawa kompleksitas sistem global. Simpanan setiap bank sentral juga tak seimbang. Semenjak Perang Dunia I, Amerika lah yang menyimpan emas paling banyak. Dengan situasi ini, harus ada negara yang rela seluruh harga barangnya naik. Di sisi lain, harus ada sebagian negara yang harus bersedia seluruh harganya diturunkan. Reposisi dan keseimbangan baru itu akan berbiaya sosial sangat besar, melibatkan seluruh negara dan masyarakat di dalamnya.
Salah satu sebab lain Bretton Woods sulit dijalankan adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh bank sentral untuk mengumpulkan emas domestik maupun internasional (sebagai backup pencetakan uang dengan standar emas) akan sangat besar. Dengan sistem ini, maka pemilik emas akan menjual emasnya kepada bank sentral, yang jelas memerlukan lebih banyak backup untuk pencetakan uang baru. Biayanya akan sangat besar, dan karena permintaan meningkat drastis, harga emas akan melonjak sangat tinggi. Ujungnya, pemilik emas bisa menilai harga yang ditetapkan tak setinggi yang seharusnya dan mereka memilih menyimpan saja emas-emas yang telah dimiliki. Wajar, karena sejak semula, emas adalah penakar nilai dan alat tukar yang universal, maka penyimpan emas merasa lebih safe dan untung jika menyimpan emas untuk melindungi asetnya juga untuk membeli barang kebutuhan. Pada titik ini terjadi kekacauan dan orang tak memerlukan lagi uang kertas, dan dunia kembali pada masa dimana emaslah yang menjadi alat transaksi. Inilah masa pada periode dengan rentang 1.500 tahun semenjak Dinar dan Dirham ditetapkan khalifah Umar ibn Khattab hingga runtuhnya kedaulatan Islam pada masa Turki Ustmani.
Uraian diatas dituliskan dengan gamblang oleh Martin Wolf, kontributor The Economist, seorang Profesor di University of Nottingham yang juga Chief Economics Commentator di Financial Times – London.
Pada sebuah tulisannya, ia mengutip juga pernyataan Bennett McCallum dari Carnegie Mellon University yang menyatakan bahwa kesadaran kembali ke alat tukar berupa emas (sebagaimana pada tahun-tahun sebelum 1930-an) diawali dengan tingkat pemahaman agama/ religiusitas yang cukup tinggi. Karena hanya ajaran agama saja yang memberikan penjelasan bahwa “nilai emas tidak pernah berubah, ia tetap dan terjaga selamanya’ (the price of gold should not be varied but should maintained, forever).
Dan kita tahu, Islam adalah agama yang melalui firman dalam Al-Quran dan hadits Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam, mengajarkan keyakinan ini kepada kita. Sejatinya, hal-hal seperti ini harus terus kita bangun mulai saat ini.
Bersambung…
(Berikutnya : 90% emas di muka bumi ini ternyata dikuasai swasta, bukan oleh bank sentral. Ini kabar baik, lalu bagaimana sikap kita?)
*) Judul tulisan diambil dari buku dengan judul sama : “The Golden Constant: The English and American Experience 1560 – 2007, Roy W Jastram, Edward Elgar Publishing)
(endy J Kurniawan, 23 September 2011)

Awalnya Adalah Inflasi….


Gerakan Occupy Wall Street di Amerika Serikat beberapa pekan terakhir sepertinya menyampaikan pesan yang serius, bahwa ada yang salah dengan system ekonomi kapitalis yang sekarang mendominasi dunia. Bahkan karena common problemkapitalisme ini pula gerakan serupa mudah menjalar ke negeri lain seperti Jerman misalnya, maka lahirlah di negeri itu gerakan Occupy Berlin. Tetapi sebenarnya bagian mananya dari kapitalisme yang diprotes oleh rakyat dunia ini ?.

Dari sekian banyak cacat bawaan kapitalisme, satu yang umum dan menyengsarakan rakyat adalah inflasi. Ketika pemerintah negara-negara di dunia mencetak uangnya secara berlebihan, maka mayoritas penduduknya akan menderita karena inflasi ini. Mereka telah bekerja sekuat tenaga tetapi penghasilannya tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhannya, inilah yang membuat rakyat di Amerika marah yang kemudian menular ke negara-negara besar lainnya.

Di tahun ini pula, kemarahan serupa terjadi di beberapa negara yang sampai menumbangkan pemerintahannya. Awalnya di Algeria ketika Januari lalu rakyatnya menuntut agar pemerintahnya memberikan (menurunkan harga) gula, demo ini sampai membawa 8 orang meninggal. Demo serupa ditiru di negeri tetangganya Tunisia yang berakhir dengan tumbangnya pemerintahan Ben Ali. Menular lagi ke Mesir hingga jatuhnya Hosni Mubarak, terus menular ke Libya  hingga jatuhnya Ghadafi – meskipun di Libya sebenarnya inflasi bukan menjadi isu, ke Syria dengan begitu banyak korban dan belum berakhir hingga kini. Di Indonesia kita juga pernah mengalami hal yang serupa, inflasi tinggi yang membawa kejatuhan Presiden Pertama dan Kedua negeri ini.

Namun sebenarnya bagi rakyat ada hal yang lebih penting ketimbang jatuhnya suatu rezim, yaitu teratasinya masalah yang mendasar yang menjadi pemicu ketidak puasan rakyat terhadap pemerintahnya – salah satunya ya inflasi itu tadi.

Di Indonesia misalnya kalau ditanya rakyat kebanyakan apakah pasca 1998 kita hidup lebih baik ?, jawabannya kemungkinan besarnya adalah tidak. Mengapa demikian ?. Grafik dibawah yang mencerminkan nilai tukar atau daya beli Rupiah kita – secara tidak langsung menjelaskan hal ini. Pasca 1998 diperlukan rata-rata sekitar 4 kali lebih banyak Rupiah untuk membeli barang kebutuhan  standar internasional yang dinilai dengan Dollar. Apakah penghasilan rakyat naik rata-rata 4 kali atau lebih pasca 1998 tersebut ?, saya rasa tidak.

Inflation to US$ - Compared
Inflation to US$ - Compared

Sebagai pembanding, mengapa demo-demo yang sampai mengguncang pemerintahannya lebih kecil kemungkinannya terjadi di negeri seperti Jepang, China dan Australia ?, ya karena mereka relatif berhasil mengendalikan inflasi di negaranya. Bila rakyat makmur, mereka tidak akan peduli dengan siapa yang  duduk di pemerintahannya. Demikian pula sebaliknya, bila rakyat sengsara – maka siapapun pemerintahannya akan dinilai gagal oleh rakyatnya.

Bahwa rata-rata kita tidak menjadi lebih makmur pasca 1998, rakyat Tunisia tidak lebih makmur pasca rezim Ben Ali, rakyat Mesir tidak lebih makmur pasca jatuhnya Hosni Mubarak, dlsb. – adalah karena rakyat itu sendiri tidak berhasil memformulasikan target tuntutannya dengan baik.

Kesalahan itu adanya pada system yang memungkinkan rakyat begitu mudah kehilangan daya beli melalui inflasi, maka siapapun pemimpinnya bila dia tidak merubah system itu – kesengsaraan akan terus berulang.

Maka sebenarnya dunia tidak memerlukan transisi kepemimpinan yang memilukan seperti di Indonesia 1965, 1998;  dan di tahun ini ada di Tunisia, Mesir, Libya dan entah mana lagi ; yang dibutuhkan adalah transsisi damai yang bisa merubah dari system ekonomi yang menyengsarakan ke system ekonomi yang memakmurkan. Transisinya bukan dari satu kekuasaan ke kekuasaan lain, tetapi seharusnya dari satu pemikiran ke pemikiran lainnya. Wa Allahu A’lam.
(Muhaimin Ikbal, 24 Oktober 2011)

Harga Emas : Noise Dari Eropa…


Kemarin sampai pagi ini harga emas kembali menyentuh harga terendahnya di pasar internasional, semalam bahkan sempat diperdagangkan pada kisaran US$ 1,612/Ozt. Meskipun belum mencapai angka terendah yang mungkin bisa tercapai dalam perkiraan sayadua pekan lalu di kisaran US$ 1,300-an/Ozt, angka sekarang sudah sangat rendah karena telah turun sekitar 15 % dari angka tertingginya satu setengah bulan lalu pada US$ 1,895/Ozt (05/09/11).   Posisi terendah saat ini kurang lebihnya adalah setengah perjalanan menurun yang mungkin bisa ditempuh harga emas dunia, apabila perjalanan menurunnya ini mengikuti pola krisis 2008.

Pertanyaaannya adalah, apa yang menyebabkan penurunan yang drastis ini ?  Bukankah Eropa sedang mengalami krisis sehingga orang membutuhkan safe haven ?

Betul Eropa sedang berada di puncak krisisnya, bahkan bila pertemuan akhir pekan ini di antara pemimpin-pemimpin mereka tidak mencapai solusi penyelamatan yang berarti – maka krisis akan tereskalasi dalam skala yang lebih besar dan lebih luas dampaknya. Dan betul bahwa pasar membutuhkan safe haven ketika krisis semacam ini terjadi, tetapi ketika krisis kali ini di Eropa dan kepercayaan dunia terhadap Euro runtuh – maka untuk sementara safe haven pertama yang ditubruk dahulu oleh pelaku pasar adalah US Dollar.

Mengapa bukan emas ? karena realitanya para pelaku usaha masih membutuhkan Dollar sebagai instrument berbagai transaksi perdagangan dan usahanya. Ketika Euro ditinggalkan dan pasar beralih ke Dollar – maka  demand terhadap US Dollar sementara meningkat dan price-nya tentu juga meningkat. Nilai tukar Dollar yang meningkat relative terhadap berbagai mata uang dunia – dan terutamanya tentu Euro – inilah yang membuat harga emas dalam Dollar menurun.

Meskipun harga emas dunia lagi rendah dan bisa turun ke angka yang lebih rendah lagi, saya masih mengkategorikannya sebagai noise dan bukan signal. Mengapa demikian ?

Karena sesungguhnya tidak ada perubahan yang fundamental dari unsur yang paling esensial yang membentuk harga emas itu sendiri. Pelajaran mendasar tentang mekanisme pembentukan harga adalah supply and demand.  Mekanisme supply and demand  ini juga berlaku bagi emas , Dollar maupun mata uang lainnya.

Untuk emas, sisi supply-nya jelas terbatas karena produksinya di seluruh dunia hanya bisa menambah jumlah emas di permukaan bumi antara 1.5 -2 % per tahun. Sedangkan sisidemand-nya tumbuh jauh lebih cepat karena dari hampir 7 milyar penduduk dunia (tepatnya6,969,500,000 per kemarin 20/10/11) , diperkirakan lebih dari 36 % di antaranya berada di China dan India  yang notabene adalah penggemar emas dalam budayanya dan daya beli mereka terus meningkat.  China dan India selain merupakan dua negara dengan penduduk terbesar di dunia, pertumbuhan ekonominya juga terbesar yaitu untuk tahun 2011 ini mencapai 9.1% (China) dan 7.7% (India).  Bandingkan ini dengan pertumbuhan ekonomi Amerika tahun ini yang hanya 1.6%, Jepang yang minus 1 % dan Indonesia 6.5%.

Disamping kebutuhan yang terkait dengan budaya dua bangsa tersebut diatas, peningkatan sisi demand emas juga di dorong oleh perlaku bank-bank sentral dunia yang kini adalah juganet buyer untuk emas, demikian pula dunia usaha mulai terus melirik emas ini dalam beberapa tahun terakhir.

Untuk US Dollar yang sementara ini digunakan sebagai pembanding harga emas dunia, pertumbuhan demand jangka panjangnya tidak bisa bergerak terlalu jauh dari pertumbuhan ekonomi negara-negara yang membutuhkan Dollar-nya. Memang China yang ekonominya tumbuh sangat pesat tersebut juga membutuhkan Dollar, tetapi tidak sebesar pertumbuhan ekonominya sendiri karena China sedang mengerem ketergantungannya pada Dollar dan malah berusaha menjadikan uangnya sendiri sebagai reserve currency bersaing dengan Dollar.

Sisi supply-nya Dollar bisa dicetak dari awang-awang dengan berbagai nama yang indah seperti quantitative easing yang konon kini telah mencapai tahap ke 3 atau satu tahap lagi menjelang kematiannya pada quantitative easing tahap ke 4.

Jadi kalau kita lihat jangka panjang emas yang pertumbuhan demand-nya lebih besar darisupply-nya, dibeli dengan Dollar yang supply-nya lebih besar dari demand-nya, maka yang dibeli (emas) semakin mahal sedangkan yang untuk membeli (Dollar) semakin murah – walhasil harga emas akan cenderung lebih besar dorongan ke atas-nya dalam jangka panjang. Ini juga di confirm oleh trend jangka panjang yang saya tulis pekan lalu (14/10/11).

Tetapi sekali lagi perlu diingat, bahwa dalam jangka pendek harga emas bisa jadi turun lebih rendah lagi. Oleh karenanya selalu saya ingatkan di situs ini untuk tidak berspekulasi dengan harga emas.  Wa Allahu A’lam. 
(Muhaimin Ikbal, 21 Oktober 2011)

invest tak jadi batal hanya karena emas lokal


(Cuplikan Artikel)
Satu pertanyaan yang termasuk sering saya terima adalah : apakah emas lokal, selain emas batangan produksi Antam aman dijadikan objek investasi? Harus diakui bahwa banyak fans emas batangan (Logam Mulia) produksi Antam adalah investor di kota-kota besar, terutama di Jakarta. Inipun tindakan berjaga-jaga yang wajar dimana masyarakat ingin investasi teraman. Sertifikat Antam adalah salah satu penjamin rasa tenang yang diharapkan investor, diluar kebutuhan akan kemudahan ketika harus melikuidasi (menjual kembali) emas tadi baik di dalam maupun luar negeri.
Emas dengan sertifikat Antam (yang distandarisasi institusi resmi dalam negeri KAN & internasional LBMA) diposisikan sebagai opposite emas lokal. Karena worldwide standard, maka memang ia bisa diperjualbelikan/ digadai dengan screening tak berpanjang-panjang di negara manapun.
Sementara pada kenyataannya di lokasi-lokasi lain, justru emas lokal yang tersedia. Dicetak olehlokal  factory, diperjualbelikan di toko-toko lokal, dan diterima sebagai objek gadai juga di lembaga keuangan lokal seperti bank syariah dan pegadaian. Pembelinya juga tak memobilisasi emas tersebut hingga ke luar kota, apalagi ke luar negeri. Jadi mereka membeli dan menjualnya kembali di kota/ wilayah yang sama.
Istilah ‘lokal’ sendiri bisa bermakna tak hanya kota, bisa juga inner propinsi. Bahkan di Jakarta pun emas lokal yang datang dari wilayah lain dengan mudah kita jumpai.  Selain itu, ‘lokal’ atau tidaknya suatu produk emas tak berarti menjelaskan bentuk. Emas lokal tak selalu berarti yang berbentuk bongkah atau lantakan, karena emas lokal pun ada yang berbentuk batang yang branded.
Jika kita harus mulai berinvestasi emas di lokasi yang tak terdapat emas batangan Antam, minimalkan resiko dengan perhatikan rambu-rambau sebagai berikut :
1.     Pilih emas lokal yang diproduksi pabrikan dengan bentuk batang. Pabrik akan keluarkan sertifikat versinya sendiri, dan ini sah-sah saja. Hindari emas bongkah karena lebih mudah dipalsukan dengan cara ‘menyuntikkan’ logam lain ke dalamnya. Sementara emas batangan akan berubah bentuk jika kita lakukan cara yang sama sehingga jauh lebih mudah terdeteksi.
2.     Pilih emas lokal yang diperjual-belikan toko terpercaya. Beli disitu, juga dijual disitu. Toko emas akan menambahkan kuitansi yang bisa memperkuat transaksi ketika dijual lagi nanti.
Sekarang bagaimana dengan value emas dan likuiditas emas lokal? Di pasar, emas lokal bisa dijual lbh rendah 5.000-20.000/gram dibanding emas sertifikat Antam, apa ini tanda-tanda tak baik? Bukan seperti itu. Karena sebetulnya basis harga emas local sama dengan emas lainnya maka valuenya naik seiring dalam kurun waktu yang sama. Seandainya emas lain naik 32% dalam setahun maka emas lokal juga. Karena dibeli lebih rendah (misal 10rb/gr), kemudian mengalami kenaikan 32% misalnya, maka ketika dijual setahun kedepan ia dihargai lebih rendah juga. Sesuatu yang wajar.
Karena sebetulnya dinilai valuable di tingkat lokal, pegadaian & bank syariah juga menerima emas lokal sebagaimana objek emas lainnya untuk tujuan gadai, seperti emas batangan bersertifikat Antam & emas perhiasan. Dengan nilai taksir yang lebih rendah, berarti secara otomatis nilai tebusnya juga lebih rendah ketika jatuh tempo.
******
Sehingga kita sampai pada kesimpulan bahwa emas lokal sebagai objek investasi pun fine-fine saja. Di beberapa daerah seperti Aceh, Medan, Semarang, Yogya, Banjarmasin emas lokal banyak beredar dan jauh lebih dikenal untuk dimiliki masyarakat sebagai tabungan/ simpanan. Sementara bagi investor yang lebih suka emas batangan Antam ataupun Dinar juga tak apa. Dinar bahkan menyebar via ratusan gerai se-Indonesia emas dan menjadi alat tukar yang mulai luas dipergunakan.
Terakhir, jangan pilih emas lokal apapun yang dibawah 16 Karat, biasanya tak diterima ketika dijadikan objek gadai sebab ‘kemuliaan’nya dianggap sangat rendah. Tetap semangat invest emas !!
(endy J Kurniawan, 24 Oktober 2011)

Minggu, 16 Oktober 2011

emas dan teman saya yang pensiun dini


*) SEBUAH CATATAN DARI ‘ASEAN JEWELLERY EXPO 2011’
Slide pertama di presentasi pengenalan investasi emas saya selalu tentang : EMAS, INVESTASI ATAU PROTEKSI ASET?
Di situ saya tampilkan data harga emas, tepatnya Dinar, dan kenaikan valuenya saat ini, mengambil contoh kasus seorang rekan yang memutuskan menginvestasikan sekitar 1/3 dana pesangon pensiun dininya ke dalam bentuk emas.
Waktu itu, November 2008, total dana yang ia investasikan berjumlah Rp 60.000.000 ketika Dinar masih senilai Rp 1.200.000 per kepingnya. Saat ini, jumlah Dinar yang sama telah bernilai Rp 90.000.000
Jika anak pertamanya perlu dana masuk sekolah SD dengan biaya Rp 10.000.000 saat ini dia cukup melepas 5 keping Dinar miliknya. Sisa 45 keping Dinar yang ada bernilai Rp 81.000.000, atau sekitar 20.000.000 lebih besar dari nilai investasinya yang pertama.
Luar biasa. Dengan jumlah Dinar yang telah terkurangi, value dalam rupiahnya masih jauh lebih tinggi dibanding 3 tahun lalu.
Selain untuk ‘menggelitik’ juga mengacak-acak cara pandang audiens tentang konsep investasi, slide pertama itu juga bertujuan untuk mendemokratisasi jalannya seminar atau pelatihan. Siapapun yang ingin memandang emas sebagai proteksi asset benar adanya. Karena memang jumlah emasnya tak bertambah, hanya value-nya jika dinilai dengan Rp maupun $ melejit tinggi.
Kalau deposito $ yang memberi hasil 2% saja masih sering disebut investasi, mengapa emas tidak?
Demikian juga tanah/ lahan menganggur yang memberi kenaikan nilai 15% per tahun saja disebut investasi, mengapa emas tidak? Padahal tanahnya juga ‘segitu-gitu’ aja, tak bertambah lebar atau tinggi.
Dipandang dari sisi investasi pun silakan saja. Karena jika satuan hitungnya adalah uang kertas, emas memberi return tak tanggung-tanggung, hingga 25% per tahun.
Emas jadi investasi karena ada uang kertas  yang telah membuat emas terus makin mahal. Dua tahun terakhir, dalam $, emas telah lebih mahal 39%. Dalam Rp, emas ‘hanya’ lebih mahal 28%. Pendorong maupun penarik harga emas naik-turun bukan hanya faktor fundamental yang mempengaruhi suplai dan permintaannya, melainkan juga kondisi mata uang dunia yang dimotori USD. Sehingga dikenal ungkapan “Gold is The Really Anti-Currency”. Apa yang menimpa mata uang, demikian sebaliknya yang terjadi pada nilai emas.
***
Pekan lalu, saya diminta menjadi pembicara di panggung utama event “ASEAN JEWELLERY EXPO 2011” dengan topik Investasi Emas untuk Semua – sebuah ajang, yang menurut salah satu organizernya, disediakan untuk sarana belanja para ibu negara dan istri para delegasi yang sedang mengikuti KTT ASEAN di Jakarta.
Minat masyarakat begitu besarnya, terutama pada investasi emas batangan Logam Mulia, sehingga antrian di stand Antam membuat acara seolah terbelah dua : kunjungan pada stand emas perhiasan yang memakan sebagian besar space ruang pameran, dengan stand Antam yang relatif kecil tetapi menyedot panjang sekali antrian.
Satu hal yang perlu disyukuri adalah animo masyarakat, termasuk generasi yang masih muda belia, untuk menyelamatkan asetnya dalam bentuk emas. Komoditi yang hakiki yang membuat simpanan kita tetap punya daya beli.
Ketika slide presentasi yang sama saya tampilkan, saya menanyakan kembali : “EMAS, INVESTASI ATAU PROTEKSI ASET” ? Dua kubu jumlah anggukannya sama. Jadi silakan emas dipandang sebagai apa.
Juga Dinar, sebutlah ia apapun. Alat tukar belum resmi, alat tukar di pasar temporer, medium transaksi, alat tukar kedua setelah Rupiah, penyimpan asset, pelindung harta dari inflasi, maupun investasi. Semuanya ‘masuk’.
Kisah teman saya diatas tetap valid menjadi referensi. Alokasi dana dalam Dinar emas memberinya benefit, lebih dari berbagai jenis investasi yang ditawarkan padanya.
Selamat berproteksi. Tak nyaman? Selamat berinvestasi.
(Endy J Kurniawan, 15 Mei 2011)

Gold Long-Term Trend : Kemana Harga Emas Bergerak…?


Hari-hari ini harga emas dunia lagi relatif rendah dibandingkan harga-harga tertingginya bulan lalu. Bagi para pemain baru yang membeli saat  euphoria emas dan bahkan mengantri untuk membeli emas ketika harga menyentuh kisaran US$ 1,900/Ozt, harga sekarang yang dibawah US$ 1,700/Ozt  atau mengalami penurunan  sekitar 11 % - pastilah mengecewakan. Namun bila Anda termasuk pemain baru ini, dan tidak buru-buru membutuhkan dana Rupiah – Anda tidak perlu terlalu kawatir karena secara statistiklong-term trend harga emas masih kuat mendorong ke atas.

Salah satu cara melihat trend jangka panjang ini yang dilakukan oleh para profesional di pasar adalah dengan membandingkan rata-rata bergerak sederhana (simple moving average – saya singkat saja SMA) dari periode yang lebih panjang, dengan rata-rata bergerak sederhana untuk periode yang lebih pendek.

Untuk analisa ini misalnya saya gunakan data harga emas Kitco sejak Januari 2000 sampai hari ini Oktober 2011. Kemudian rata-rata bergerak sederhana-nya saya buat untuk periode 20 bulan (SMA-20) dan periode 9 bulan (SMA-09). Untuk melihat trendnya kemana, kaidahnya demikian :

Trend jangka panjang akan naik bila :

1.     SMA-09 berada di atas SMA-20
2.     Keduanya bergerak keatas
3.     Harga emas di pasar masih diperdagangkan diatas SMA-09

Sebaliknya trend jangka panjang akan turun bila :

1.     SMA-09 berada dibawah SMA-20
2.     Keduanya bergerak kebawah
3.     Harga emas di pasar diperdagangkan dibawah SMA-09

Sekarang kita lihat hasil analisa ini pada grafik dibawah :

Gold Long-Term Trend
Gold Long-Term Trend


Anda bisa lihat bahwa sepanjang sebelas tahun terakhir, SMA-09 secara persistent berada diatas SMA-20, dan terbukti memang sepanjang periode ini trend jangka panjang itu begitu jelas menuju keatas.  Anda bisa uji juga dengan data komoditi lain, saham dlsb – asal Anda memiliki data harga perdagangannya untuk periode yang cukup panjang.

Jadi meskipun Anda membeli emas/Dinar pada saat harga tertinggi bulan lalu, asal Anda tidak terburu-buru menjualnya – insyaAllah Anda tidak merugi. Wa Allahu A’lam. (Muhaimin Iqbal, 14 Oktober 2011)

Trend Harga Emas (emas24.com)



Harga Emas Dunia Dalam 24 Jam

24 Hours Gold Price

24 Hours Gold Price